fin.co.id - Banjir bandang besar dan tanah longsor terjadi di Pakistan akibat hujan deras pada Minggu 17 Agustus, memakan ratusan korban jiwa.
Hingga pada Senin 18 Agustus, korban tewas tercatat sebanyak 351 jiwa berdasarkan data otoritas setempat.
Provinsi Khyber Pakhtunkhwa menjadi wilayah dengan korban jiwa tertinggi, yakni mencapai 328 orang. Sementara itu, 12 orang dilaporkan tewas di Gilgit-Baltistan dan 11 korban lainnya berada di Azad Jammu dan Kashmir.
Otoritas Pakistan mengingatkan bahwa angka kematian masih berpotensi meningkat. Hal ini seiring upaya penyelamatan yang masih berlangsung di kawasan terdampak paling parah.
Tidak hanya memakan korban jiwa, bencana tersebut juga merusak rumah-rumah penduduk, toko, hingga infrastruktur vital.
Status Darurat di Khyber Pakhtunkhwa
Pemerintah Provinsi Khyber Pakhtunkhwa telah menetapkan status darurat di seluruh wilayah terdampak banjir. Kebijakan itu diambil menyusul semakin bertambahnya jumlah korban tewas dan masih banyaknya warga yang hilang.
Laporan otoritas penanganan bencana setempat menyebut ada sembilan wilayah yang paling terdampak, yakni Swat, Battagram, Bajaur, Buner, Dir Lower, Dir Upper, Mansehra, Torghar, dan Shangla.
Di wilayah Buner saja, dilaporkan 209 orang meninggal dunia, 134 orang hilang, dan 159 lainnya mengalami luka-luka. Proses evakuasi di daerah ini melibatkan tiga batalyon militer serta 300 relawan pertahanan sipil.
Bantuan darurat berupa pangan, tenda, dan selimut juga telah disalurkan bagi ribuan warga yang kini tinggal di lokasi pengungsian.
Kunjungan Pejabat dan Upaya Penyelamatan
Kepala daerah Khyber Pakhtunkhwa, Ali Amin Gadaput, turun langsung ke Buner untuk meninjau lokasi terdampak sekaligus memimpin rapat koordinasi penanganan bencana.
Pejabat wilayah melaporkan lebih dari 3.500 warga telah berhasil dievakuasi. Gadaput menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat serta menegaskan pemerintah berkomitmen penuh dalam upaya rehabilitasi.