PLN EPI Dorong Bioenergi Jadi Peluang Usaha Domestik dan Internasional

news.fin.co.id - 10/09/2025, 19:52 WIB

PLN EPI Dorong Bioenergi Jadi Peluang Usaha Domestik dan Internasional

PLN EPI kembangkan bioenergi sebagai energi hijau sekaligus peluang usaha domestik dan ekspor, dengan tantangan pasokan dan harga.

fin.co.id - Bioenergi semakin diakui sebagai kunci penting dalam transisi energi di Indonesia. Pemerintah menargetkan pemanfaatan 9 juta ton biomassa pada 2030 untuk mendukung enhanced Nationally Determined Contribution (eNDC) sekaligus mewujudkan target net zero emission (NZE). Salah satu langkah strategis adalah program cofiring biomassa di PLTU yang dinilai efektif menekan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Biomassa sebagai Ekosistem Ekonomi Kerakyatan

Direktur Biomassa PLN Energi Primer Indonesia (EPI), Hokkop Situngkir, menegaskan bahwa biomassa lebih dari sekadar bahan bakar alternatif. Menurutnya, bioenergi mencakup seluruh ekosistem, mulai dari sumber bahan baku hingga rantai pembakaran yang berkontribusi terhadap jejak karbon nasional.

“Bioenergi itu tidak hanya bicara material yang dibakar, tetapi seluruh jejak karbon dari sumber bahan baku hingga pembakaran. Kami memastikan setiap tahun ada peningkatan signifikan sesuai peta jalan nasional dalam Permen ESDM 12/2023 dan RUPTL 2025–2034,” ujarnya dalam Workshop “Optimalisasi Peluang Usaha Bagi Pengusaha Muda” yang digelar ASPEBINDO bersama HIPMI di Jakarta.

Advertisement

Peluang Usaha Berbasis Biomassa

Data PLN EPI menunjukkan, realisasi pasokan biomassa untuk cofiring PLTU mencapai 1,6 juta ton pada 2024. Hokkop menilai peluang usaha biomassa sangat luas karena melibatkan UMKM, kelompok tani, hingga mitra lokal. Limbah seperti serbuk gergaji dan sekam kini memiliki nilai ekonomi baru yang tidak hanya mendukung energi bersih, tetapi juga pemberdayaan masyarakat.

Tantangan Pasokan dan Kebijakan

Meski prospeknya besar, tantangan bioenergi masih berfokus pada kestabilan pasokan, kapasitas pengolahan, dan harmonisasi regulasi. Hokkop menekankan pentingnya membangun struktur sub-hub, hub, dan main hub agar produksi biomassa lebih terjamin dan berkelanjutan.

Kementerian ESDM juga menilai biomassa sebagai program prioritas menuju swasembada energi. Namun berbeda dengan energi terbarukan lain, bioenergi sangat bergantung pada lahan dan sumber daya hayati sehingga memerlukan usaha berkelanjutan. Selain cofiring, biomassa juga berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Persaingan Pasar dan Mekanisme Harga

Potensi biomassa di Indonesia meliputi jaringan PLN (on-grid) dan pemakaian mandiri (off-grid/captive power). Namun, tantangan utama ada pada biaya logistik, keekonomian skala, dan keberlanjutan pasokan. Teknologi digital seperti AI dan IoT dinilai penting untuk menjaga transparansi rantai pasok biomassa dari hulu ke hilir.

Selain itu, harga biomassa dipengaruhi fluktuasi batu bara. Saat harga batu bara tinggi, biomassa lebih kompetitif. Namun ketika harga batu bara turun, biomassa sulit bersaing. Karena itu, mekanisme indeksasi harga biomassa diperlukan agar lebih stabil dan menjadi acuan pasar.

Kolaborasi untuk Transisi Energi

Advertisement

Hokkop menegaskan, pengembangan bioenergi tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Kolaborasi antara PLN, pelaku usaha, dan pemerintah sangat penting untuk menjaga rantai pasok. Apalagi ekspor biomassa, seperti cangkang sawit, terus meningkat di pasar global meski dikenakan tarif ekspor.

“Peluang pasar biomassa, baik domestik maupun internasional, terbuka sangat besar. Kuncinya adalah menjaga kesinambungan pasokan dan memastikan standar teknis seperti SNI terpenuhi,” kata Hokkop. (*)

Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis

Penulis FIN.CO.ID