Kemlu Pastikan WNI di Nepal Aman di Tengah Kerusuhan

news.fin.co.id - 11/09/2025, 14:38 WIB

Kemlu Pastikan WNI di Nepal Aman di Tengah Kerusuhan

Di tengah gelombang kerusuhan yang melanda Nepal, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) memastikan bahwa seluruh WNI di Nepal berada dalam kondisi aman.

fin.co.id – Di tengah gelombang kerusuhan yang melanda Nepal, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) memastikan bahwa seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) di Nepal berada dalam kondisi aman.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Judha Nugraha, dalam keterangan resminya. “Hingga saat ini, seluruh WNI dilaporkan dalam kondisi aman,” ujarnya, Kamis, 11 September 2025.

Kemlu melalui Kedutaan Besar RI (KBRI) di Dhaka, yang merangkap akreditasi untuk Nepal, terus melakukan komunikasi intensif dengan 123 WNI yang berada di Kathmandu dan sekitarnya.

“KBRI Dhaka terus menjalin komunikasi dengan para WNI, baik yang menetap, sedang berwisata, maupun yang tergabung dalam delegasi pertemuan internasional,” jelas Judha.

Advertisement

Menurut data KBRI, saat ini terdapat:

  • 57 WNI menetap di Nepal
  • 43 anggota delegasi RI yang tengah mengikuti konferensi internasional
  • 2 personel TNI yang sedang menempuh pelatihan
  • 23 wisatawan Indonesia

Seluruhnya dipastikan dalam keadaan selamat dan tidak berada di pusat kerusuhan. KBRI juga mengimbau seluruh WNI di Nepal untuk tetap waspada dan menghindari lokasi demonstrasi.

Latar Belakang Kerusuhan

Kerusuhan ini dipicu oleh kebijakan pemerintah Nepal pada 4 September 2025 yang memblokir 26 platform media sosial seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, dan YouTube, karena tidak memenuhi aturan registrasi baru. Langkah ini dinilai sebagai bentuk pembungkaman terhadap kritik publik, terutama terkait isu korupsi dan nepotisme.

Aksi protes yang dipelopori oleh generasi muda usia 13–28 tahun (Generasi Z) pada 8 September, awalnya berlangsung damai, namun berubah menjadi bentrokan brutal setelah aparat menggunakan peluru tajam, meriam air, dan gas air mata. Hingga kini, sedikitnya 22 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.

Pada 9 September, kemarahan massa memuncak dan demonstran dilaporkan membakar gedung parlemen, kompleks pemerintahan Singha Durbar, serta rumah pribadi Presiden Ram Chandra Paudel dan mantan Perdana Menteri Sher Bahadur Deuba.

(Dimas Rafi)

Mihardi
Mihardi
Penulis

Penulis FIN.CO.ID