Xi Jinping dan Donald Trump Teleponan Bahas TikTok dan Hubungan Dagang

news.fin.co.id - 20/09/2025, 10:30 WIB

Xi Jinping dan Donald Trump Teleponan Bahas TikTok dan Hubungan Dagang

Presiden AS Donald Trump

fin.co.id - Presiden China Xi Jinping kembali melakukan percakapan via telepon dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald J. Trump pada 19 September 2025 malam. Dalam dialog tersebut, keduanya membahas arah hubungan bilateral sekaligus isu-isu aktual, mulai dari perdagangan hingga kontroversi TikTok.

"Pada 19 September 2025 malam, Presiden Xi Jinping berbicara dengan Presiden AS Donald J Trump melalui telepon. Kedua presiden bertukar pandangan secara terbuka dan mendalam mengenai kondisi terkini hubungan China-AS dan isu-isu lain yang menjadi kepentingan bersama," demikian keterangan tertulis yang diterima ANTARA dari Beijing, Jumat (19/9) malam.

Percakapan ini menjadi yang pertama sejak komunikasi terakhir keduanya pada 5 Juni 2025.

Terkait TikTok, China menegaskan sikapnya. "Posisi China terkait isu TikTok jelas, pemerintah China menghormati keinginan perusahaan tersebut dan akan senang melihat negosiasi komersial yang produktif sesuai dengan aturan pasar menghasilkan solusi yang mematuhi hukum dan peraturan China serta mempertimbangkan kepentingan kedua belah pihak," sebut pernyataan resmi.

China juga meminta AS memberikan iklim investasi yang terbuka, adil, dan non-diskriminatif bagi perusahaan asal Negeri Tirai Bambu. "AS akan bekerja sama dengan China di bidang ekonomi dan perdagangan, serta mendukung tim mereka dalam mencapai kesepakatan yang tepat terkait TikTok melalui konsultasi. AS juga akan bekerja sama dengan China untuk perdamaian dunia," lanjut keterangan itu.

Dalam pembicaraan, Presiden Xi mengingatkan sejarah persahabatan kedua negara. Ia menekankan bahwa China dan AS pernah menjadi sekutu saat Perang Dunia II. Pada peringatan 80 tahun kemenangan Perang Perlawanan Rakyat China melawan agresi Jepang dan Perang Anti-Fasis, pemerintah China bahkan mengundang keluarga American Flying Tigers menghadiri parade di Tiananmen.

"Rakyat China tidak akan melupakan dukungan berharga dari AS dan negara-negara sekutu anti-fasis lainnya terhadap Perang Perlawanan China. Menghormati para pahlawan yang gugur dan mengenang sejarah sangat penting untuk menghargai perdamaian dan menciptakan masa depan yang lebih baik," demikian disebut.

Xi menekankan, hubungan China-AS harus dikelola dengan baik. Ia menilai kedua negara mampu saling mendukung demi kesejahteraan bersama serta kemaslahatan dunia. Namun, visi tersebut menuntut kerja sama yang dilandasi rasa hormat, koeksistensi damai, dan prinsip saling menguntungkan.

"Negosiasi baru-baru ini antara pejabat China dan AS mencerminkan semangat kesetaraan, rasa hormat, dan saling menguntungkan. Mereka dapat terus menangani isu-isu penting dalam hubungan bilateral dengan baik dan mengupayakan hasil yang saling menguntungkan," sebut keterangan itu.

China juga menekankan agar AS tidak memberlakukan pembatasan perdagangan unilateral yang dapat merusak kemajuan konsultasi kedua belah pihak.

Sementara itu, Presiden Donald Trump memberikan apresiasi terhadap parade militer China yang menurutnya "sangat fenomenal dan indah." Ia menegaskan kembali pentingnya kemitraan AS-China. "Kedua negara yang bekerja sama dapat mencapai banyak hal hebat yang bermanfaat bagi perdamaian dan stabilitas dunia. AS ingin menjalin hubungan jangka panjang yang besar dan hebat dengan China," demikian disebutkan.

Trump juga menulis di akun @TruthSocial miliknya bahwa percakapan tersebut berjalan produktif. "Kami mencapai kemajuan dalam banyak isu yang sangat penting termasuk perdagangan, fentanil, perlunya mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina dan persetujuan Kesepakatan TikTok," ungkap Trump.

Kedua pemimpin pun sepakat untuk melanjutkan dialog di forum KTT APEC di Korea Selatan. "Saya juga akan pergi ke China pada awal tahun depan dan Presiden Xi juga akan datang ke AS pada waktu yang tepat. Panggilan telepon itu sangat baik, kami akan berbicara lagi melalui telepon, menghargai persetujuan TikTok, dan kami berdua berharap dapat bertemu di APEC!" kata Trump.

Sebagai catatan, Mahkamah Agung AS sebelumnya memutuskan mendukung undang-undang yang melarang penggunaan TikTok bila induk usahanya, ByteDance, tidak melepas sebagian saham ke investor non-China dengan alasan keamanan nasional. Trump sendiri sudah beberapa kali memberikan perpanjangan waktu bagi TikTok, dengan tenggat terakhir semestinya berakhir pada 17 September 2025.

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca