Pengangguran Jakarta Turun, Tapi Lulusan SMA Masih Paling Banyak Nganggur

news.fin.co.id - 05/11/2025, 16:31 WIB

Pengangguran Jakarta Turun, Tapi Lulusan SMA Masih Paling Banyak Nganggur

Tingkat pengangguran di DKI Jakarta turun jadi 6,05% pada Agustus 2025. Foto: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa.

fin.co.id - Kabar baik datang dari Ibu Kota. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta baru saja merilis hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 yang menunjukkan tren positif yakni jumlah pengangguran di Jakarta menurun.

Dari total 5,46 juta angkatan kerja, tercatat 330 ribu orang masih menganggur, atau sekitar 6,05 persen dari total angkatan kerja. Angka ini memang belum kecil, tapi tetap menggembirakan karena menurun dibandingkan tahun lalu. Pada Agustus 2024, jumlah pengangguran masih mencapai 338 ribu orang dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 6,21 persen.

“Besaran pengangguran 330 ribu orang, sebelumnya diBesaran pengangguran 330 ribu orang, sebelumnya di Agustus (2024) 338 ribu orang. Perubahan ini kita bandingkan dengan Agustus 2024,” jelas Kepala BPS DKI Jakarta, Nurul Hasanudin, di Jakarta, Rabu (4/11).

Angkatan Kerja Bertambah, Tapi yang Bekerja Juga Naik

Advertisement

Yang menarik, jumlah penduduk usia kerja di Jakarta juga ikut naik. Pada Agustus 2025, BPS mencatat total 8,43 juta orang, meningkat sekitar 65.800 orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari angka itu, sebanyak 5,46 juta orang masuk kategori angkatan kerja, sementara sisanya 2,97 juta orang tergolong bukan angkatan kerja (seperti pelajar, ibu rumah tangga, dan lainnya).

Dari sisi pekerjaan, 5,13 juta orang sudah bekerja, sisanya masih mencari pekerjaan. Ini menunjukkan bahwa pasar kerja di Jakarta masih cukup dinamis, meskipun persaingan tetap ketat.

Laki-Laki Lebih Banyak Menganggur Dibanding Perempuan

BPS juga menyoroti perbedaan tingkat pengangguran berdasarkan jenis kelamin. Hasil survei menunjukkan bahwa TPT laki-laki mencapai 6,21 persen, lebih tinggi dibandingkan perempuan yang berada di angka 5,79 persen.

Artinya, dari setiap 100 laki-laki yang termasuk dalam angkatan kerja, ada sekitar enam orang yang belum bekerja. Sementara di kelompok perempuan, hanya sekitar lima orang yang masih menganggur.

Kondisi ini menandakan masih adanya ketimpangan kesempatan kerja berdasarkan gender, meskipun selisihnya tidak terlalu besar.

Tamatan SMA Jadi yang Paling Banyak Menganggur

Bila dilihat dari tingkat pendidikan, TPT tertinggi pada Agustus 2025 datang dari tamatan SMA umum, yaitu 7,18 persen. Angka ini mengindikasikan bahwa lulusan SMA masih menghadapi tantangan besar untuk masuk ke dunia kerja, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan tenaga kerja berkeahlian tinggi.

Advertisement

Sementara itu, TPT terendah justru terjadi pada tamatan SD ke bawah, yakni 2,83 persen. Pola ini cukup menarik karena berbeda dengan tahun sebelumnya. Pada Agustus 2024, justru tamatan SMA kejuruan mencatat tingkat pengangguran tertinggi, sedangkan yang terendah berasal dari tamatan SMP.

Perubahan pola ini bisa jadi menunjukkan adanya pergeseran tren kebutuhan tenaga kerja di Jakarta. Industri dan sektor jasa kini cenderung mencari pekerja dengan keterampilan teknis atau keahlian khusus, bukan sekadar pendidikan umum.Jumlah pengangguran di Jakarta memang masih ratusan ribu, tapi tren penurunannya memberi harapan. Dengan strategi tepat dan peningkatan kualitas tenaga kerja, Jakarta bisa melangkah menuju pasar kerja yang lebih solid, kompetitif, dan siap menghadapi masa depan. (ANT)

Wanda Afifah
Wanda Afifah
Penulis

Penulis FIN.CO.ID