Sebagai Penasehat Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI), Soelaeman menilai perlakuan yang berbeda terhadap dua presiden besar itu menunjukkan adanya ketimpangan dalam penulisan sejarah.
“Kepemimpinan Soeharto adalah cermin kompleksitas bangsa. Ada represi, tapi ada juga keberhasilan besar. Penilaian terhadap beliau tidak bisa hitam putih,” katanya.
Ia menutup pesannya dengan ajakan bagi generasi muda untuk memandang sejarah secara rasional dan terbuka.
“Sejarah harus dibaca dengan nalar, bukan emosi. Dari keberhasilan dan kegagalan masa lalu, kita belajar bagaimana membangun masa depan yang lebih adil dan berkeadaban,” pungkasnya.