Pramono Rem ‘Event Lari’ di Jakarta, Demi Jaga Gengsi Marathon Ibu Kota

news.fin.co.id - 23/11/2025, 18:10 WIB

Pramono Rem ‘Event Lari’ di Jakarta, Demi Jaga Gengsi Marathon Ibu Kota

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung akan membatasi kegiatan Running Festival atau lari maraton di Jakarta. -cahyono-

fin.ci.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengambil langkah baru yang cukup mengejutkan para pegiat olahraga. Ia menegaskan rencana pembatasan penyelenggaraan event lari maraton di Ibu Kota. Kebijakan ini langsung memantik perhatian publik karena Jakarta sedang menjadi salah satu pusat pertumbuhan event olahraga terbesar di Indonesia.

Pramono menyampaikan kebijakan tersebut saat memaparkan APBD DKI Jakarta di Balai Kota. Ia ingin menjaga wibawa dua event besar yang selama ini menjadi magnet pelari lokal maupun internasional: Jakarta Running Festival dan Jakarta International Marathon. Pramono menilai derasnya minat penyelenggara justru bisa menggerus prestise dua gelaran unggulan itu.

“Untuk sementara ini kami membatasi supaya apa, Jakarta Running Festival maupun Jakarta International Marathon itu tetap terjaga dengan baik,” ujar Pramono. Pernyataan ini menegaskan niatnya menjaga kualitas dan gengsi event lari yang kini menjadi daya tarik kota metropolitan tersebut.

Setelah Jakarta International Marathon berlangsung sukses dengan partisipasi puluhan ribu pelari dari berbagai negara, perhatian terhadap Jakarta sebagai destinasi olahraga mendadak melonjak. Gelaran tersebut menciptakan tren baru: makin banyak perusahaan besar ingin mengajukan perizinan untuk menggelar event marathon bertaraf serupa.

Advertisement

Situasi ini semakin menarik ketika sejumlah perusahaan kakap tidak hanya mengajukan izin, tetapi juga meminta kemudahan khusus agar penyelenggaraannya berlangsung lebih cepat. Maraton rupanya bukan sekadar olahraga, melainkan juga arena prestise bagi brand besar.

Namun Pramono tidak mau tergesa-gesa. Ia merasa Jakarta membutuhkan kurasi ketat agar kualitas event lari tetap konsisten. “Sekarang semua perusahaan-perusahaan besar meminta privilege untuk bisa mengadakan acara tersebut di Jakarta. Tetapi untuk sementara ini kami membatasi,” tegasnya.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa Pemprov DKI ingin menghindari ledakan event serupa yang justru menghilangkan nilai eksklusif. Selain itu, terlalu banyak gelaran maraton dapat memicu persoalan teknis, seperti kemacetan, kebutuhan pengamanan ekstra, dan tekanan pada ruang publik. Dengan pembatasan, Pramono memastikan Jakarta tetap punya agenda olahraga yang terencana, ikonik, dan tidak kehilangan nilai festivalnya.

Meskipun demikian, Pramono tetap membuka pintu untuk berbagai event olahraga internasional di masa depan. Ia menilai potensi Jakarta sebagai tuan rumah event kelas dunia sangat besar, dan peluang tersebut tidak boleh hangus hanya karena kebijakan penyaringan penyelenggara.

Menurutnya, Jakarta justru harus memanfaatkan momentum kebangkitan event olahraga untuk memperkuat posisi sebagai kota global. Ia ingin ibu kota berkembang menjadi pusat sport tourism yang mampu menarik wisatawan dari berbagai negara.

Pramono menjelaskan bahwa peluang industri olahraga sangat luas, terutama untuk meningkatkan citra kota dan menggerakkan perekonomian. "Kami juga akan secara terus-menerus membuka ruang, apabila ada berbagai kesempatan, termasuk seluruh bidang yang ada, bahkan di bidang sport pun kami sekarang mendorong untuk Jakarta menjadi Sports Tourism,” ungkapnya.

Dorongan ini selaras dengan rencana transformasi Jakarta menuju ’kota festival’ kelas dunia. Pengalaman sukses menggelar dua event marathon besar membuktikan bahwa Jakarta mampu menjadi tuan rumah penyelenggaraan olahraga berkelas. Antusiasme pelari dari berbagai negara juga menunjukkan bahwa brand Jakarta sebagai destinasi atletik mulai terbentuk kuat.

Selain menjadi magnet wisata, event olahraga seperti maraton terbukti menciptakan multiplier effect. Mulai dari sektor hotel, transportasi, restoran, hingga UMKM, semua ikut menggeliat saat festival lari berlangsung. Tingginya permintaan ini menjadi alasan mengapa perusahaan besar ingin ikut meramaikan pasar event olahraga di Jakarta.

Namun Pramono memandang perlombaan yang terlalu banyak justru dapat menurunkan standar penyelenggaraan. Ia ingin Jakarta menjaga momentum dengan merawat kualitas, bukan mengejar kuantitas. Dalam konteks ini, pembatasan bukanlah penghalang, melainkan strategi menjaga brand agar tidak kehilangan daya tariknya.

Advertisement

Langkah ini juga mencerminkan bagaimana Jakarta mulai beralih dari sekadar pusat pemerintahan menjadi pusat aktivitas global. Dengan sport tourism sebagai salah satu pilar, Jakarta berpeluang memperkuat posisinya sebagai kota modern yang punya daya tawar tinggi dalam ajang internasional.

Pertanyaannya kini: akankah pembatasan ini membuat penyelenggara mengalihkan event mereka ke kota lain, atau justru memicu persaingan kualitas yang lebih ketat? Bagi Pramono, menjaga prestise Jakarta menjadi prioritas. Ia ingin kota ini tetap menjadi panggung utama bagi event besar, termasuk maraton berskala internasional.

Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis

Penulis FIN.CO.ID