fin.co.id - Setiap hari, ribuan orang keluar rumah untuk mencari rezeki. Namun tidak semua perjuangan terlihat. Di balik jalanan yang tampak biasa, ada kisah orang-orang yang nekat menembus bahaya demi memenuhi tanggung jawabnya. Salah satunya datang dari Fatur Rozi, kurir paket yang menempuh rute Pronojiwo–Tempursari.
Pada hari yang seharusnya berjalan seperti biasa, Fatur justru berhadapan dengan situasi yang bikin jantung berdebar. Hujan abu tebal dan letusan sekunder Gunung Semeru tiba-tiba menghalangi perjalanannya. Jalan tertutup abu, jarak pandang turun drastis, dan udara berubah pekat hingga hampir tidak terlihat apa-apa.
Tapi, seperti banyak pejuang nafkah lainnya, Fatur tidak langsung menyerah.
Menurut ceritanya, kondisi cuaca berubah cepat. Langit mendadak gelap dan abu mulai turun seperti kabut tebal. Motor yang ia kendarai harus melambat karena hampir tidak terlihat jalan di depan.
Di tengah kepanikan itu, ia tetap mencoba menghubungi atasannya.
“Bos aku telat bos, sorry bos, aku terjebak… sorry, sorry ya telat,” ujarnya sambil sedikit tertawa.
Sikapnya yang masih bisa bercanda memperlihatkan bagaimana ia mencoba tetap tenang meski situasi tidak mendukung sama sekali.
Abu vulkanik yang turun bukan hanya membuat jalan licin dan berbahaya, tetapi juga bisa merusak mesin kendaraan. Namun Fatur tetap bertahan sebisa mungkin karena ia sadar banyak pelanggan menunggu paket, dan pekerjaannya adalah bentuk tanggung jawab yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.
Jarak pandang yang nyaris nol membuatnya harus berhenti. Ia terjebak beberapa waktu hingga kondisi mulai membaik. Meski begitu, ia tetap memilih bertahan di jalur agar bisa menyelesaikan pekerjaannya begitu situasi memungkinkan.
Ini menunjukkan bagaimana kurir seperti Fatur sering kali menghadapi risiko yang tidak terlihat oleh orang awam. Meski cuaca ekstrem datang tiba-tiba, target pengiriman tetap harus dicapai. Namun Fatur paham batas aman dirinya, sehingga ia memilih bertahan sambil menunggu momentum yang lebih aman.
Setelah sempat terjebak dan menunggu kondisi mereda, Fatur akhirnya bisa kembali ke rumah dengan selamat. Meski diguyur abu vulkanik, ia tetap berusaha menyelesaikan tugas sebelum memastikan dirinya pulang.
Bagi Fatur, pekerjaannya bukan hanya soal angka atau target harian. Ia bekerja untuk keluarga.
Kisah ini bukan sekadar cerita kurir yang telat. Ini adalah gambaran nyata tentang bagaimana orang-orang bekerja lapangan terus berjibaku dengan situasi yang tidak bisa mereka kendalikan.
Di balik setiap paket yang tiba di depan pintu rumah kita, ada tenaga seperti Fatur yang mungkin sedang menembus hujan, jalan licin, cuaca ekstrem, atau bahkan abu vulkanik. (*)