Waspada! Spesialis Jantung Bongkar Tuntas Mitos Kolesterol Tinggi dan Herbal: Jangan Mudah Percaya Klaim Marketing!

news.fin.co.id - 09/12/2025, 18:05 WIB

Waspada! Spesialis Jantung Bongkar Tuntas Mitos Kolesterol Tinggi dan Herbal: Jangan Mudah Percaya Klaim Marketing!

Kolesterol tinggi ancaman serius (38% kematian RI). Dokter Birry Karim bongkar strategi turunkan LDL, target risiko, dan fakta mengejutkan soal obat herbal vs medis! - Sigit Nugroho -

Mitos vs. Fakta: Omega 3, Black Garlic, dan Uji Klinis

Salah satu topik yang paling menarik perhatian masyarakat Indonesia adalah bahan herbal. Banyak orang percaya pada khasiat bawang putih, ubi, atau berbagai klaim produk seperti black garlic untuk menurunkan kolesterol. Apa kata ahli?

Dr. Birry dengan tegas menekankan pentingnya dasar ilmiah. “Semua obat harus ada kajian ilmiahnya. Ada evidence base-nya namanya. Kalau herbal itu ada evidence base, nggak masalah.”

Ia bahkan memberikan fakta mengejutkan: beberapa obat medis yang kita anggap "kimia" hari ini, dulunya berasal dari herbal, seperti Digoksin untuk obat jantung dan Vincristine (alkaloid vinca) untuk obat kemoterapi. Perbedaannya? Obat-obatan ini telah melalui uji klinis yang ketat.

Advertisement

“Semua harus melalui uji klinis,” tegasnya. Uji klinis tidak hanya menguji keamanan (profile of safety) tetapi juga efikasi atau kemanjuran (profile of efficacy). Uji ini melibatkan ribuan orang, bukan hanya pengalaman satu atau dua individu.

Jadi, produk herbal yang marak di pasaran, termasuk klaim black garlic? Dr. Birry menyebutnya motif marketing. “Ya mitos itu motif marketing.”

Bagaimana dengan Omega 3? Dr. Birry mengakui manfaatnya, "Omega 3 bisa tapi tidak bisa menjadi sendiri. Dia harus dikombinasi dengan obat kolesterol." Artinya, Omega 3 bisa menjadi pendamping yang baik, tetapi tidak dapat menggantikan peran utama obat penurun kolesterol (seperti golongan statin) yang sudah teruji klinis dalam menangani risiko tinggi.

Stres dan Kolesterol: Hubungan Tak Langsung yang Harus Diwaspadai

Selain faktor makanan dan gaya hidup, bagaimana dengan stres? Dr. Birry menjelaskan bahwa stres memiliki pengaruh secara tidak langsung terhadap kadar kolesterol. Ini melibatkan sistem kompleks bernama Hypothalamic-Pituitary-Adrenal Axis (HPA Axis).

HPA Axis adalah sistem yang akan mengaktifkan hormon kortisol (hormon stres). Peningkatan hormon kortisol ini, pada gilirannya, dapat meningkatkan kadar kolesterol.

Oleh karena itu, mengelola stres bukan hanya baik untuk kesehatan mental, tetapi juga menjadi bagian integral dari strategi penurunan risiko kardiovaskular. Ingat, mengendalikan LDL bukan hanya tentang menghindari makanan berlemak, tetapi juga mengendalikan faktor risiko lain yang saling terhubung dalam tubuh. (*)

Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis

Penulis FIN.CO.ID