“Kalaupun air meluap, kawasan sekitar tidak lagi terdampak karena warga sudah tidak berada di bantaran. Embung juga dibuat di beberapa titik sebagai solusi jangka panjang,” terang Dedi.
Pembangunan embung ini nantinya berfungsi sebagai wadah penampung limpahan air dari sungai saat hujan deras, sehingga debit air yang mengalir ke pemukiman bisa ditekan secara signifikan.
Relokasi Warga Jadi Langkah Wajib
Salah satu kebijakan paling penting dalam rencana penanganan banjir Bandung adalah relokasi total warga yang tinggal di bantaran sungai.
Menurut Dedi, kawasan tersebut sudah tidak layak huni jika dilihat dari risiko banjir yang terjadi hampir setiap tahun.
Saat ini, sebanyak 292 jiwa telah masuk dalam tahap awal relokasi di wilayah Dayeuhkolot. Pemprov Jabar juga tengah menyiapkan tahapan relokasi lanjutan untuk kawasan rawan lainnya.
“Seluruh bantaran akan kita relokasi. Kalau ada 1.000 orang, semua akan kita relokasi. Ada 2.000, 2.000 kita relokasi,” tegas Dedi.
Langkah ini diambil bukan semata demi penataan kota, tetapi juga untuk menjamin keselamatan warga yang selama ini menjadi korban banjir berulang.
Dalam proses relokasi ini, pemerintah tidak serta-merta memindahkan warga tanpa solusi hunian. Dedi memastikan warga akan diberikan rumah kontrakan sementara sambil menunggu pembangunan lokasi relokasi permanen.
Program hunian sementara tersebut sudah mulai disiapkan untuk warga Dayeuhkolot yang terdampak lebih dulu. Skema ini diharapkan bisa mengurangi beban sosial dan ekonomi warga yang harus meninggalkan tempat tinggal lamanya.
Relokasi ini menjadi bagian dari program penataan ulang kawasan rawan banjir, yang ke depan tidak lagi diperbolehkan menjadi area pemukiman.
Para ahli lingkungan menilai bahwa penurunan tanah di Bandung akan terus berlanjut jika eksploitasi air tanah tidak dikendalikan dengan ketat.
Pengambilan air tanah secara berlebihan oleh industri dan permukiman menjadi salah satu penyebab utama turunnya permukaan tanah.
Jika kondisi ini terus terjadi tanpa pengendalian, maka risiko banjir di Bandung bukan hanya bersifat musiman, tetapi bisa berkembang menjadi bencana kronis tahunan. (*)