Dilarang Jualan, Dapur Tak Ngebul: Jeritan Pedagang Kembang Api Jelang Tahun Baru

news.fin.co.id - 30/12/2025, 14:48 WIB

Dilarang Jualan, Dapur Tak Ngebul: Jeritan Pedagang Kembang Api Jelang Tahun Baru

Deretan lapak bernuansa merah dan kuning mulai tampak menghiasi trotoar di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur.

fin.co.id – Deretan lapak bernuansa merah dan kuning mulai tampak menghiasi trotoar di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Seperti tahun-tahun sebelumnya, para pedagang kembang api musiman kembali mengadu peruntungan menjelang malam pergantian tahun.

Namun, suasana akhir tahun kali ini terasa jauh dari kata meriah. Instruksi keras Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo yang melarang petasan dan kembang api saat perayaan tahun baru membuat para pedagang berada di posisi serba salah: antara mempertahankan modal atau menghadapi risiko penertiban.

Gubernur Pramono sebelumnya menegaskan, pelanggaran terhadap aturan tersebut akan ditindak tegas. Kebijakan ini diambil demi menjaga ketertiban serta mengurangi potensi kebakaran dan gangguan keamanan.

Modal Besar, Risiko Lebih Besar

Advertisement

Maman (52), pedagang kembang api yang sudah satu dekade berjualan di Jatinegara, terlihat murung saat menyusun roman candle di lapaknya. Larangan ini, menurutnya, menjadi ancaman serius bagi penghasilan tahunan yang selama ini diandalkan.

"Modal saya jutaan, Mas. Ini pinjam dari saudara. Kalau dilarang total dan disita, saya mau bayar pakai apa? Kami paham aturan, tapi tolong lihat kami yang di bawah ini," keluh Maman saat ditemui di lapaknya belum lama ini.

Ia mengaku telah mendengar kabar soal razia dan penertiban oleh Satpol PP. Meski demikian, ia tetap memilih berjualan karena tidak memiliki alternatif pekerjaan lain menjelang tutup tahun.

Aturan Dinilai Belum Jelas

Keluhan serupa disampaikan Surya (45). Ia menilai kebijakan di lapangan masih membingungkan karena tidak membedakan secara tegas antara petasan dan kembang api hias.

"Katanya petasan yang meledak di bawah itu dilarang, saya setuju. Tapi kembang api yang terbang ke atas kan seni, hiburan masyarakat kecil. Kalau semua disapu bersih, ya repot," ujar Surya.

Ia berharap pemerintah tak sekadar mengeluarkan larangan, tetapi juga memberikan penjelasan rinci atau solusi yang lebih manusiawi, agar pedagang tidak langsung kehilangan seluruh barang dagangan.

Hidup dalam Bayang-bayang Razia

Advertisement

Di sisi lain, Rizal (30), pedagang yang lebih muda, mengaku selalu diliputi rasa cemas. Setiap kali melihat kendaraan patroli melintas, pikirannya langsung dipenuhi ketakutan.

"Tiap ada Satpol PP lewat, jantung rasanya mau copot. Kami ini seperti kucing-kucingan. Di satu sisi takut kena garuk (tertibkan), di sisi lain kalau tidak jualan, dapur tidak ngebul," kata Rizal.

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID