Ratusan Orang di Madrid Turun Jalan Unjuk Rasa Protes Penangkapan Presiden Venezuela oleh AS

news.fin.co.id - 05/01/2026, 09:00 WIB

Ratusan Orang di Madrid Turun Jalan Unjuk Rasa Protes Penangkapan Presiden Venezuela oleh AS

Ratusan Orang di Madrid Turun Jalan Unjuk Rasa Protes Penangkapan Presiden Venezuela oleh AS (Antara/Anadolu)

fin.co.id - Ratusan orang memadati kawasan di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Madrid, Spanyol, pada Minggu 4 Januari 2026 untuk menyuarakan protes atas aksi AS di Venezuela.

Para peserta aksi menyampaikan kepada RIA Novosti bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

"Apa yang terjadi di negara kami adalah pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan campur tangan dalam urusan dalam negeri negara berdaulat," ujar Orlando Salas, seorang warga Venezuela yang telah menetap di Spanyol selama enam tahun. Ia menambahkan, "Serangan AS akan meninggalkan luka yang jauh lebih dalam dibandingkan masalah yang mereka klaim ingin perbaiki". 

Perwakilan dari berbagai kekuatan politik sayap kiri turut hadir dalam demonstrasi tersebut. Ione Belarra, pemimpin partai Podemos, secara tegas mendesak otoritas Spanyol dan lembaga Uni Eropa untuk memberikan respons kuat terhadap perkembangan di Venezuela. Ia juga menyerukan peninjauan kembali hubungan mereka dengan Washington.

Advertisement

Situasi di sekitar kantor perwakilan diplomatik AS tampak diperketat. Pihak kepolisian memperkirakan kehadiran ratusan demonstran. Pengamanan di kawasan tersebut melibatkan satuan Kepolisian Nasional dan Garda Sipil.

Para pengunjuk rasa mengibarkan bendera, meneriakkan slogan, dan secara lantang menyuarakan penolakan terhadap kebijakan luar negeri AS. Mereka menilai kebijakan tersebut dipenuhi tekanan dan campur tangan langsung dalam urusan negara lain.

"Ini bukan soal mendukung tokoh politik tertentu, melainkan soal penolakan terhadap tindakan kekerasan dan penangkapan lintas wilayah," jelas Eric Briceno, seorang peserta aksi yang berasal dari Kuba. Ia menekankan, "Kami menentang tekanan militer dan mendukung hak setiap bangsa untuk menentukan masa depannya sendiri tanpa campur tangan pihak luar."

Briceno menambahkan bahwa kemarahan para demonstran tidak hanya tertuju pada situasi di Venezuela, tetapi juga meluas pada peran AS dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dalam skala yang lebih luas di kawasan tersebut.

Ia memperingatkan bahwa langkah yang diambil Washington dapat menciptakan preseden berbahaya bagi negara-negara lain di Amerika Latin.

Sebelumnya, pada Sabtu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan pelancaran serangan besar ke Venezuela. Ia mengklaim telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, serta membawa mereka keluar dari negara tersebut.

Beberapa laporan media mengabarkan adanya ledakan di Caracas yang dikaitkan dengan operasi unit Delta Force AS.

Harian The New York Times, mengutip seorang pejabat senior Venezuela, melaporkan bahwa sedikitnya 40 orang tewas dalam insiden tersebut, termasuk personel militer dan warga sipil.

Pihak berwenang Venezuela sendiri menyatakan tidak mengetahui keberadaan Presiden Maduro dan menuntut bukti bahwa ia masih hidup.

Advertisement

Menyusul laporan tersebut, Trump kemudian membagikan sebuah foto yang ia klaim menunjukkan Maduro berada di atas kapal USS Iwo Jima.

Media-media AS juga menayangkan pendaratan sebuah pesawat di Negara Bagian New York. Pesawat tersebut disebut-sebut membawa Maduro dan istrinya, dengan pengawalan ketat puluhan aparat penegak hukum.

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca