Intinya:
-
Tompi menegaskan tidak memiliki masalah pribadi dengan Pandji Pragiwaksono dan menyebut hubungan mereka tetap baik.
-
Ia menyetujui hampir seluruh materi Mens Rea, namun menyayangkan candaan yang menyinggung fisik.
-
Tompi menilai kritik seharusnya diarahkan pada gagasan, kinerja, atau kebijakan, bukan penampilan fisik.
Sebagai dokter bedah plastik, Tompi kemudian menjelaskan bahwa kondisi mata yang tampak mengantuk pada Gibran merupakan kondisi anatomis bawaan yang dikenal dalam istilah medis sebagai ptosis. Kondisi tersebut menyebabkan kelopak mata turun sehingga bukaan mata tidak maksimal.
fin.co.id - Musisi yang juga berprofesi sebagai dokter bedah, Tompi, menegaskan tidak ada persoalan pribadi antara dirinya dengan komika Pandji Pragiwaksono.
Penegasan itu disampaikan menyusul sorotannya terhadap materi stand-up comedy Pandji yang menyinggung penampilan fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Isu tersebut berkaitan dengan pertunjukan stand-up comedy Pandji berjudul Mens Rea yang ditayangkan di sebuah platform streaming. Dalam salah satu bagian pertunjukan, Pandji menyinggung penampilan Wapres Gibran yang disebut terlihat seperti orang mengantuk.
Tompi menegaskan hubungannya dengan Pandji tetap baik dan tidak dilandasi konflik personal.
"Saya klarifikasi dulu bahwa saya dan Pandji itu berteman. Walaupun dalam beberapa kali urusan politik kita tidak selalu satu 'track', tapi kita temenan. Saya baik-baik aja sama dia, dan enggak punya personal issue, tidak ada urusan pribadi," kata Tompi saat memberikan keterangan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin 5 Januari 2026.
Ia juga menyebut pernah bekerja dan berdiskusi bersama Pandji, termasuk membahas isu-isu politik. Setelah menyaksikan pertunjukan stand-up comedy berdurasi lebih dari dua jam tersebut, Tompi mengaku pada dasarnya sependapat dengan sebagian besar materi yang disampaikan Pandji.
"Hampir semuanya, secara umum saya setuju dengan kontennya. Seratus persen benar. Saya setuju dengan kontennya. Kegelisahannya itu adalah kegelisahan kita semua. Dan dia berhasil menyampaikan pesan itu dengan baik, gitu. Saya cuma menyayangkan satu hal aja," ungkap Tompi.
Hal yang disayangkan Tompi adalah ketika kritik terhadap tokoh politik diarahkan pada kondisi fisik. Menurutnya, kritik semestinya ditujukan pada kinerja atau kebijakan, bukan pada penampilan yang melekat secara alami pada seseorang.
Sebagai dokter bedah plastik, Tompi kemudian menjelaskan bahwa kondisi mata yang tampak mengantuk pada Gibran merupakan kondisi anatomis bawaan yang dikenal dalam istilah medis sebagai ptosis. Kondisi tersebut menyebabkan kelopak mata turun sehingga bukaan mata tidak maksimal.
"Ptosis itu otot levator (kelopak mata) kepanjangan turun ke bawah, jadi mata dia tertutup, bukaan matanya tidak maksimal. Pada orang dewasa yang kasus seperti Pak Gibran, Pak Wapres, itu kondisi ptosisnya tidak terlalu berat," kata Tompi.
Pernyataan Tompi ini menjadi perbincangan luas di media sosial setelah ia mengunggah pandangannya terkait pertunjukan stand-up comedy spesial ke-10 Pandji Pragiwaksono, Mens Rea, melalui akun Instagram pribadinya, @dr_tompi. Dalam unggahan tersebut, Tompi menegaskan bahwa menjadikan kondisi fisik sebagai bahan tertawaan bukanlah bentuk kritik yang berkualitas.