Produksi harian Venezuela pada tahun 2025 hanya berkisar 1,1 juta barel per hari. Angka ini anjlok drastis jika dibandingkan dengan masa kejayaannya di tahun 1970-an yang mampu menembus 3,5 juta barel per hari. Kurangnya investasi, masalah tata kelola yang buruk, serta sanksi berkepanjangan telah melumpuhkan raksasa energi ini.
Donald Trump melihat celah ini sebagai peluang emas. Ia berambisi memulihkan pengaruh AS di kawasan sekaligus memutus hubungan "Kemitraan Strategis" yang telah dibangun oleh rezim Nicolas Maduro dengan Beijing sejak 2023. Puncak drama ini terjadi pada 3 Januari 2025, ketika AS melancarkan operasi besar dan berhasil menangkap Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores.
Mereka kini telah berada di New York untuk menjalani pengadilan atas tuduhan terorisme narkoba dan konspirasi impor kokain. Pemerintahan Trump menggambarkan operasi ini sebagai langkah pembersihan korupsi sekaligus penegasan kembali kekuasaan AS di benua Amerika. Dunia kini menantikan reaksi lanjutan dari China. Apakah Beijing akan membalas secara ekonomi, ataukah membiarkan miliaran dolar investasinya dikelola oleh kepentingan Amerika?
Satu hal yang pasti, perang urat syaraf antara dua kekuatan besar ini baru saja memasuki babak paling berbahaya di pasar minyak dunia. Ketidakpastian ini berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global. - ANTARA -