Tim Meteorologi BMKG menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh keberadaan Siklon Tropis Jenna di Samudra Hindia barat daya serta Bibit Siklon Tropis 90W di Laut Filipina. Kedua sistem tersebut meningkatkan kecepatan angin dan memicu lonjakan tinggi gelombang di sejumlah perairan Indonesia.
BMKG mencatat pola angin di wilayah utara Indonesia umumnya bergerak dari barat laut hingga timur laut dengan kecepatan 6–25 knot. Sementara itu, di wilayah selatan, angin bergerak dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan yang relatif sama. Kombinasi ini memperkuat potensi gelombang tinggi di laut lepas.
Informasi Cuaca Jadi Kunci Mitigasi Risiko
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa pengelolaan informasi cuaca yang andal, terintegrasi, dan berkelanjutan menjadi pilar utama dalam manajemen risiko bencana hidrometeorologi. Menurutnya, informasi yang kuat menjadi fondasi penting untuk mendukung sistem peringatan dini, langkah mitigasi, hingga pengambilan keputusan yang tepat.
BMKG pun terus mendorong masyarakat dan pemangku kepentingan untuk aktif memantau pembaruan cuaca. Dengan begitu, potensi risiko akibat hujan lebat, petir, dan gelombang tinggi dapat diminimalkan sejak dini.
Di tengah dinamika cuaca yang semakin kompleks, kewaspadaan dan akses informasi yang akurat menjadi kunci utama. BMKG mengingatkan, satu langkah antisipasi hari ini dapat mencegah dampak besar di kemudian hari. (ANTARA)