Nasional

Tak Ingin Disalip Filipina, Indonesia Desak Negosiasi Baru Pembelian Jet Tempur KF-21 Block-2

Pemerintah disebut telah memulai negosiasi baru secara mendesak untuk pembelian jet tempur KF-21 Block-2 buatan Korea Selatan

Tak Ingin Disalip Filipina, Indonesia Desak Negosiasi Baru Pembelian Jet Tempur KF-21 Block-2

Dengan spesifikasi tersebut, KF-21 Block-2 dinilai lebih adaptif untuk kebutuhan pertahanan jangka panjang, terutama di kawasan dengan dinamika keamanan tinggi seperti Asia Pasifik.

KF-21 merupakan jet tempur supersonik bermesin ganda dengan panjang sekitar 13 meter, tinggi 4,5 meter, dan bentang sayap 14 meter. Pesawat ini dirancang dalam konfigurasi satu pilot dan dua pilot, menyesuaikan kebutuhan operasional dan pelatihan.

Proyek ini adalah hasil kerja sama strategis antara Republik Korea dan Indonesia, dengan komposisi partisipasi:

Sebagai imbalan kontribusi biaya, Indonesia berhak atas alih teknologi dan prototipe, termasuk peluang pengembangan industri pertahanan dalam negeri. Meski sempat tertunda akibat kendala pembayaran, Indonesia akhirnya kembali ke jalur proyek setelah beberapa kali mundur.

Pada Juni 2024, Badan Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan (DAPA) menandatangani kontrak dengan Korea Aerospace Industries (KAI) senilai 1,4 miliar dolar AS untuk memproduksi 20 unit KF-21.

Rencana awal proyek mencakup:

Dalam jangka panjang, Korea Selatan menargetkan KF-21 berkembang menjadi jet tempur generasi kelima penuh, dengan:

  • Teknologi siluman yang lebih matang

  • Sensor dan avionik canggih

  • Sistem peperangan elektronik mutakhir

  • Integrasi senjata di internal weapons bay

Persaingan Regional Makin Ketat

Filipina secara terbuka menyatakan ketertarikannya terhadap KF-21 pada Mei 2024, meski hingga kini belum ada pengumuman resmi terkait pembelian. Dalam proses seleksi, KF-21 bersaing ketat dengan:

  • F-16V buatan Lockheed Martin (AS)

  • Saab Gripen dari Swedia

Situasi inilah yang mendorong Indonesia untuk bergerak cepat dan agresif, demi menjaga posisi strategisnya dalam proyek bersama sekaligus memastikan modernisasi kekuatan udara nasional tidak tertinggal.

Berita Terkait