Danantara Nekat Tarik Utang USD1 Miliar! Biaya Dana Bengkak Dua Kali Lipat, Sinyal Bahaya Buat Ekonomi RI?

news.fin.co.id - 29/01/2026, 21:31 WIB

Danantara Nekat Tarik Utang USD1 Miliar! Biaya Dana Bengkak Dua Kali Lipat, Sinyal Bahaya Buat Ekonomi RI?

Wisma Danantara

fin.co.id - Kabar mengejutkan datang dari raksasa pengelola dana abadi Indonesia, Danantara. Di tengah badai yang mengguncang pasar saham domestik, Danantara resmi mengamankan pinjaman jumbo senilai US$1 miliar atau setara Rp15,8 triliun.

Namun, ada harga mahal yang harus mereka bayar: biaya bunga pinjaman ini tercatat membengkak hingga lebih dari dua kali lipat jika kita bandingkan dengan obligasi patriot sebelumnya!

Ringkasan :

  • Danantara berhasil mengamankan pinjaman senilai US$1 miliar dari kreditur global.
  • Biaya bunga pinjaman ini jauh lebih tinggi dibandingkan obligasi patriot sebelumnya.
  • Langkah ini diambil untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 8% Presiden Prabowo Subianto.

Advertisement

Langkah berani ini terjadi saat mata investor dunia tertuju pada Indonesia pasca kejatuhan pasar ekuitas terparah sejak era 1998.

Danantara kini berada di bawah tekanan besar untuk membuktikan tajinya sebagai mesin pertumbuhan ekonomi 8% yang Presiden Prabowo Subianto dambakan.

Pertanyaannya, sanggupkah Danantara mengelola dana mahal ini di tengah sorotan tajam kreditur global?

Utang Dolar Makin Menguras Kantong, Danantara Bayar Margin Tinggi ke Bank Global

Sumber internal mengungkapkan bahwa pinjaman berjangka tiga tahun ini memiliki struktur bunga yang cukup mencekik.

Untuk porsi dolar AS, Danantara harus membayar bunga dengan margin 95 basis poin di atas US Secured Overnight Financing Rate (SOFR).

Jika kita hitung dengan level saat ini, bunganya menembus angka 4,61%.

Angka ini sungguh kontras jika kita bandingkan dengan kupon obligasi patriot bertenor lima dan tujuh tahun yang hanya sebesar 2%.

Advertisement

Padahal, obligasi patriot tersebut merupakan dana yang bersumber dari keluarga-keluarga terkaya di Indonesia.

Mahalnya biaya dana dari kreditur internasional ini menjadi indikasi awal bahwa pasar global mulai memberikan "premi risiko" yang lebih tinggi bagi institusi finansial Indonesia.

Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis

Pemimpin Redaksi FIN.CO.ID