Ini artinya, investor global menilai Indonesia punya risiko lebih tinggi sehingga meminta imbal hasil lebih besar.
Bagi Danantara, ini berarti mereka harus menyiapkan anggaran bunga yang lebih besar lagi.
Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pengelolaan keuangan negara yang sedang berupaya bangkit pasca gejolak ekonomi global.
Ambisi Jumbo Menciut? Target Pinjaman US$10 Miliar Terpaksa Dipangkas
Sebenarnya, Danantara sempat punya ambisi gila untuk menjajaki kredit hingga US$10 miliar tahun lalu.
Angka tersebut akan menjadi utang terbesar di Asia Tenggara jika terealisasi.
Sederet bank kakap seperti HSBC, Standard Chartered, DBS, hingga UOB sempat masuk dalam barisan koordinator.
Namun, entah mengapa, Danantara akhirnya hanya menarik US$1 miliar meskipun ada sekitar 29 bank yang ikut berpartisipasi.
Keputusan mempertahankan ukuran pinjaman yang lebih kecil ini mencuatkan spekulasi di kalangan pelaku pasar.
Apakah Danantara sedang mengerem ambisi karena suku bunga global yang terlalu tinggi?
Atau memang sedang menjaga profil risiko di mata investor asing?
Hingga saat ini, pihak Danantara sendiri masih bungkam dan belum memberikan tanggapan resmi terkait biaya dana yang selangit ini.
Ketidakjelasan ini tentu menambah daftar pertanyaan di benak publik dan investor.
Pihak Danantara perlu segera memberikan klarifikasi agar tidak menimbulkan interpretasi yang liar.