fin.co.id - Setelah hampir sepekan hidup di tengah kepungan air, warga Desa Cirumpak, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, mulai menghadapi krisis kesehatan. Genangan luapan Sungai Cimanceuri dan Sungai Cipasilian yang tak kunjung surut memicu gelombang keluhan penyakit kulit hingga nyeri sendi, di tengah keterbatasan pasokan obat-obatan di posko darurat.
Debit air di wilayah pesisir Tangerang ini diperkirakan masih bertahan pada ketinggian 50 hingga 70 sentimeter. Kondisi ini memaksa ratusan warga bertahan di tenda-tenda darurat yang didirikan secara mandiri di bahu jalan, serta tenda bantuan dari BNPB, Kementerian Sosial, dan PMI.
Sekretaris Desa Cirumpak, Ahmad Yani, mencatat sedikitnya 630 warga telah mengakses layanan kesehatan dari puskesmas setempat. Namun, angka ini diprediksi terus bertambah seiring memburuknya kualitas lingkungan akibat banjir.
“Keluhan yang mendominasi adalah penyakit kulit atau gatal-gatal karena warga terlalu lama terpapar air kotor. Selain itu, banyak juga yang mengeluhkan nyeri persendian dan otot,” ujar Yani saat ditemui di lokasi pengungsian, Kamis, 29 Januari 2026.
Persoalan kesehatan ini dirasakan nyata oleh Santi, salah satu warga terdampak. Sambil menunjuk jari kakinya yang mulai memerah, ia bercerita tentang rasa nyeri di lutut yang tak kunjung hilang setiap kali ia harus menerjang air untuk beraktivitas.
“Sudah dua kali berobat ke posko, tapi belum terasa membaik. Kami sangat butuh salep untuk gatal, tapi katanya stoknya sedang kosong,” keluh Santi.
Kelangkaan obat spesifik seperti salep kulit dan suplemen sendi di posko kesehatan menjadi ironi di tengah upaya penanggulangan bencana yang sudah memasuki hari keenam. Tanpa intervensi medis yang memadai, risiko infeksi kulit sekunder dan penurunan imunitas pengungsi dikhawatirkan akan memicu masalah kesehatan yang lebih luas di Desa Cirumpak.