Istana Jelaskan Dana Rp16 Triliun untuk Jadi Anggota Board of Peace: Tidak Wajib

news.fin.co.id - 05/02/2026, 09:17 WIB

Istana Jelaskan Dana Rp16 Triliun untuk Jadi Anggota Board of Peace: Tidak Wajib

Presiden RI Prabowo Subianto berjabat tangan dengan Presiden Trump pada saat sesi foto Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) -Biro Pers Sekretariat Presiden-

fin.co.id - Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menegaskan keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace atau Dewan Perdamaian bukanlah keanggotaan permanen. Pemerintah, kata dia, memiliki ruang penuh untuk menarik diri sewaktu-waktu apabila dinilai tidak lagi sejalan dengan kepentingan nasional.

"Keanggotaan bersifat tidak bersifat tetap. Indonesia sewaktu-waktu dapat menarik diri dari keanggotaan," kata Teddy dalam keterangannya, Kamis 5 Februari 2026.

Meski demikian, Teddy menekankan partisipasi Indonesia dalam forum tersebut bukan sekadar simbolik. Langkah ini disebut sebagai upaya nyata Indonesia untuk terlibat langsung dalam mendorong gencatan senjata di Gaza, sekaligus memastikan suara Indonesia ikut menentukan arah kebijakan perdamaian.

Keikutsertaan Indonesia, lanjut Teddy, mencerminkan peran aktif di tingkat global, bukan hanya hadir dalam forum-forum formal tanpa dampak langsung.

Advertisement

"Keikutsertaan Indonesia merupakan langkah konkret untuk turut serta secara langsung dalam mengurangi peperangan di Palestina, dan bukan hanya sebatas ikut konferensi, rapat, diskusi, atau pertemuan resmi," ujarnya.

Terkait isu iuran sebesar USD 1 miliar, atau Rp 16,8 triliun, Teddy meluruskan bahwa dana tersebut dialokasikan khusus untuk rekonstruksi Gaza dan bersifat sukarela. Indonesia, menurut dia, hingga kini belum melakukan pembayaran apa pun.

"Para negara anggota boleh membayar atau tidak. Jika membayar, maka akan menjadi anggota tetap. Namun, bila tidak membayar, maka keanggotaan akan berlangsung selama 3 tahun. Saat ini, Indonesia belum membayar," ujarnya.

Lebih jauh, Teddy menegaskan bahwa arah diplomasi yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto selalu berorientasi pada hasil nyata dan strategis bagi Indonesia. Prinsip tersebut, kata dia, tercermin dari berbagai capaian penting yang berhasil diraih dalam setahun terakhir.

Salah satu capaian tersebut adalah bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS, yang beranggotakan negara-negara dengan kekuatan ekonomi besar dunia.

"Indonesia bergabung dengan BRICS, yang beranggotakan, di antaranya Brasil, Rusia, Tiongkok, dan India yang merupakan kekuatan ekonomi dunia," ujar Teddy.

Selain itu, Indonesia juga mencatat keberhasilan dalam penetapan tarif dagang nol persen di 27 negara Uni Eropa serta kesepakatan pembangunan Kampung Haji di Arab Saudi. Tak hanya itu, Indonesia turut ambil bagian dalam perjanjian perdamaian Palestina yang diinisiasi oleh Amerika Serikat.

"Indonesia turut mencatat sejarah dengan ikut menandatangani perjanjian perdamaian Palestina yang diinisiasi AS. Pasca-penandatanganan perjanjian, jumlah konflik dan korban pun telah berkurang signifikan," ujarnya. *

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca