Orang Tua Wajib Tahu! Gumoh Bayi Umumnya Normal, GERD Jarang

news.fin.co.id - 05/02/2026, 21:03 WIB

Orang Tua Wajib Tahu! Gumoh Bayi Umumnya Normal, GERD Jarang

ASI, Ibu dan Bayi |Image: oleh Iuliia Bondarenko dari Pixabay

fin.co.id - Fenomena regurgitasi atau gumoh pada bayi sering kali memicu kecemasan orang tua dan kerap dianggap sebagai gangguan kesehatan serius. Padahal, dari sisi medis, regurgitasi maupun Gastroesophageal Reflux (GER) termasuk proses fisiologis yang lazim dialami bayi, khususnya pada enam bulan awal kehidupannya.

Pemahaman ini menjadi sorotan utama dalam kegiatan Media Gathering & Health Talk yang digelar RS Premier Bintaro dan dihadiri oleh Chief Executive Officer (CEO) RS Premier Bintaro, dr. Relia Sari, MARS.

Relia menegaskan, penyampaian edukasi kesehatan anak yang berlandaskan bukti ilmiah merupakan komitmen RS Premier Bintaro untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. Ia juga menekankan pentingnya peran media dalam membantu menyebarkan informasi kesehatan yang benar dan dapat dipahami masyarakat, terutama para orang tua.

Data klinis yang disampaikan menunjukkan sekitar 30 persen bayi mengalami regurgitasi, dengan frekuensi tertinggi pada usia 3 hingga 4 bulan, lalu berangsur menurun sampai usia satu tahun. Kondisi ini dikenal sebagai happy spitter, yakni bayi yang tetap aktif, nyaman saat menyusu, dan tumbuh sesuai usia meskipun sering gumoh.

Advertisement

Berbeda dengan itu, Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan kondisi yang jauh lebih jarang ditemukan, dengan angka kejadian sekitar 3–8 persen. GERD terjadi ketika isi lambung naik ke kerongkongan secara berulang atau dalam durasi lama, sehingga berpotensi menimbulkan peradangan kerongkongan serta komplikasi lain, seperti gangguan makan, gagal tumbuh, anemia, muntah bercampur darah, hingga penurunan kualitas hidup anak.

Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi menekankan, tantangan utama dalam praktik sehari-hari adalah membedakan antara regurgitasi yang bersifat fisiologis dengan GERD.

“Regurgitasi dan GER itu sering dan umumnya tidak berbahaya, sedangkan GERD jarang. GERD perlu dicurigai bila terdapat tanda bahaya atau alarm sign, seperti gagal tumbuh, bercak darah pada regurgitasi, nyeri hebat, atau gangguan neurologis. Tanpa tanda alarm, pemeriksaan lanjutan biasanya tidak diperlukan,” jelas Badriul dalam keterangan, Kamis, 5 Januari 2026.

Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K) dikenal luas sebagai pakar di bidang gastroenterologi dan hepatologi anak di Indonesia, dengan rekam jejak panjang dalam layanan klinis, pendidikan, dan riset, serta aktif menjadi pembicara di berbagai forum ilmiah nasional maupun internasional.

Dalam diskusi juga disampaikan bahwa gumoh berulang, bayi tampak rewel, atau menangis lama tidak serta-merta menandakan GERD, karena gejala tersebut juga dapat dijumpai pada bayi yang sehat. Oleh sebab itu, penilaian medis yang komprehensif diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain, termasuk alergi protein susu sapi, sebelum menegakkan diagnosis GERD.

Penanganan awal regurgitasi dan GER pada bayi umumnya dilakukan tanpa obat, melalui edukasi kepada orang tua, tetap melanjutkan pemberian ASI, menghindari pemberian makan berlebihan, mengatur posisi bayi, serta mempertimbangkan penggunaan susu formula yang lebih kental bila dibutuhkan. Terapi obat bukan pilihan utama dan hanya diberikan pada kasus GERD yang telah dipastikan.

Melalui forum ini, RS Premier Bintaro kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan edukasi kesehatan anak yang menyeluruh dan berbasis ilmiah, sekaligus memperkuat sinergi dengan media untuk meningkatkan pemahaman dan literasi kesehatan masyarakat.

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID