Selain sejarah faktual, asal usul lampion Imlek juga diwarnai legenda populer tentang Kaisar Langit yang dikenal sebagai Jade Emperor (You Di).
Konon, Kaisar Langit murka karena seekor angsa kesayangannya terbunuh oleh warga sebuah kota. Ia berencana membalas dengan membakar kota tersebut menggunakan api dari langit.
Namun seorang peri mengetahui rencana itu dan memberi saran kepada warga untuk menyalakan lampion di seluruh penjuru kota pada malam yang telah ditentukan.
Ketika melihat cahaya yang menyala terang dari langit, Jade Emperor mengira kota tersebut sudah terbakar habis. Amarahnya mereda dan kota itu pun terselamatkan.
Sejak saat itu, tradisi menyalakan lampion dipercaya sebagai simbol perlindungan dan keselamatan.
Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, lampion juga dikaitkan dengan upaya mengusir makhluk jahat, termasuk sosok mitologis bernama Nian, raksasa yang konon muncul setiap pergantian tahun.
Cahaya terang dan warna merah dipercaya mampu menakuti Nian serta energi negatif lainnya. Karena itu, lampion merah menjadi warna dominan dalam perayaan Imlek.
Makna Simboliknya:
- Penolak energi buruk
- Pembawa keberuntungan
- Lambang kebahagiaan
- Simbol harapan baru
Tak heran jika lampion hampir selalu menghiasi pintu rumah, pusat perbelanjaan, hingga tempat ibadah saat Imlek tiba.
Seiring perkembangan zaman, desain lampion semakin beragam, mulai dari bentuk bulat klasik hingga karakter zodiak tahun berjalan. Namun esensinya tetap sama: cahaya sebagai simbol optimisme.
Lampion bukan hanya elemen estetika, melainkan pengingat akan nilai budaya, solidaritas keluarga, serta keyakinan bahwa setiap tahun baru membawa peluang baru.
Dalam konteks modern, Festival Lentera bahkan menjadi daya tarik wisata budaya di berbagai negara Asia, termasuk di Indonesia.