Reshuffle Bukan Jawaban? Adidaya Institute Nilai Strategi Big Bang Prabowo Butuh Menteri 'Tukang Eksekusi'!

news.fin.co.id - 11/02/2026, 18:03 WIB

Reshuffle Bukan Jawaban? Adidaya Institute Nilai Strategi Big Bang Prabowo Butuh Menteri 'Tukang Eksekusi'!

Strategi Big Bang Prabowo butuh menteri jago eksekusi! Adidaya Institute ungkap alasan menteri tetap aman meski komunikasi publik masih perlu di-upgrade.

fin.co.id - Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sedang tancap gas. Kabar burung soal reshuffle kabinet memang selalu menarik, namun data terbaru dari Adidaya Institute mengungkap fakta yang jauh lebih krusial. Ternyata, kunci sukses kepemimpinan Prabowo bukan sekadar gonta-ganti personel, melainkan menteri yang paham cara "mengeksekusi" ide besar Sang Presiden!

Adidaya Institute menyoroti bahwa Prabowo kini sedang menjalankan strategi Big Bang dan Big Push untuk menghapus kemiskinan di Indonesia. Strategi ini bukanlah proyek recehan, melainkan paket investasi raksasa yang bergerak serentak secara nasional.

Paket Terintegrasi, Bukan Sekadar Proyek Satuan

Banyak yang salah kaprah melihat program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Sekolah Rakyat sebagai kebijakan yang berdiri sendiri. Padahal, menurut Manajer Ekonomi Pembangunan Adidaya Institute, Dr. Bramastyo B. Prastowo, ini adalah satu kesatuan untuk memutus rantai kemiskinan multidimensi.

Advertisement

Bayangkan saja, mulai dari Cek Kesehatan Gratis (CKG), pembangunan 3 Juta Rumah, hingga Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), semuanya dirancang untuk bergerak cepat dan masif. Contohnya, pembangunan 80 ribu Gedung Koperasi Desa Merah Putih bertujuan agar buruh bangunan di desa langsung bekerja tanpa harus mengadu nasib ke kota.

Kenapa Menteri 'Penurut' Tetap Dipertahankan?

Ada fenomena menarik di kabinet saat ini. Beberapa pembantu presiden mungkin terlihat memiliki pemahaman yang biasa saja (low understanding), namun mereka tetap aman di posisinya. Mengapa demikian? Karena Prabowo lebih memprioritaskan kemampuan eksekusi di lapangan.

“Seluruh pembantu Presiden (Menteri) harus paham apa maunya Presiden. Bagaimana cara men-delivery (eksekusi program), itu menjadi hal yang penting. Presiden butuh orang yang bisa men-delivery pikiran-pikirannya,” ungkap Bramastyo kepada para jurnalis, Selasa (10/2/2026).

Bagi Prabowo, strategi Big Bang menuntut menteri yang berani bergerak cepat. Meski seorang menteri hanya menjalankan pilihan presiden, selama program tersebut sampai ke tangan masyarakat (high delivery), posisinya cenderung akan dipertahankan daripada terkena reshuffle.

PR Besar: Komunikasi Publik Masih Lemah

Meski kebijakan ekonomi sudah berada di jalur yang benar (on the right track), Adidaya Institute memberikan catatan merah pada aspek komunikasi. Eksekusi yang hebat akan terasa hambar jika masyarakat tidak memahami manfaatnya. Saat ini, komunikasi publik para menteri dinilai belum cukup baik dan perlu di-upgrade secara serius.

Strategi Big Push yang berfokus pada investasi manusia dan ekonomi rakyat butuh narasi yang kuat agar publik merasa terlibat. Ke depannya, menteri ideal bagi Prabowo bukan hanya mereka yang jago bekerja di balik meja, tapi juga yang mampu menjelaskan visi besar pemerintah agar menjadi high understanding di mata rakyat. (*)

Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis

Pemimpin Redaksi FIN.CO.ID