fin.co.id - Pemimpin senior Hamas, Osama Hamdan, menyampaikan sikap tegas terkait wacana pengiriman 8 ribu tentara Indonesia untuk bergabung dalam Pasukan Stabilisasi Internasional atau International Stabilization Force (ISF) di Jalur Gaza, Palestina.
ISF disebut sebagai bagian dari inisiatif Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump guna merespons konflik berkepanjangan di wilayah tersebut.
Dalam wawancara dengan media berbasis di Qatar, Aljazeera Mubasher, Hamdan menegaskan bahwa Hamas bersama warga Palestina di Gaza tidak menginginkan kehadiran pasukan asing dalam bentuk apa pun.
"Kami telah memberi tahu semua pihak, termasuk pemerintah Indonesia, bahwa kami, warga Palestina tidak membutuhkan kekuatan atau pasukan (asing)," kata Hamdan dalam wawancara dengan media berbasis di Qatar, Aljazeera Mubasher, dikutip Jumat 13 Februari 2026.
Ia menilai pengerahan pasukan luar justru berpotensi memperburuk keadaan apabila tidak memiliki mandat yang jelas dan berpihak pada kepentingan rakyat Palestina.
"Hal terakhir yang seharusnya dipikirkan dunia adalah mengirim pasukan yang bertindak sebagai pengganti pendudukan (Israel), pasukan yang bentrok dengan rakyat Palestina atas nama penjajahan atau berupaya melemahkan kehendak mereka alih-alih menghadapi tentara pendudukan. Hal seperti itu tidak akan pernah diterima oleh rakyat Palestina," paparnya menambahkan.
Meski demikian, Hamdan menyebut ada skenario tertentu yang dapat dipertimbangkan. Ia menjelaskan bahwa apabila Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memutuskan pembentukan pasukan internasional, maka keberadaan mereka seharusnya difokuskan di wilayah perbatasan.
Menurutnya, tugas utama pasukan tersebut harus untuk mencegah Israel kembali melakukan serangan ke Gaza.
"Mereka (pasukan internasional) harus mencegah penyusupan, penembakan, pendudukan ulang, atau serangan kembali ke Jalur Gaza seperti yang telah terjadi sebelumnya. Jika pasukan itu datang dengan dasar dan mandat seperti itu, maka hal tersebut dapat diterima," ucap Hamdan.
Hamdan juga mengungkapkan bahwa Hamas telah menjalin komunikasi dengan sejumlah negara terkait isu pengiriman pasukan asing ke Gaza, termasuk Indonesia.
Ia menuturkan, dari hasil pembicaraan tersebut, negara-negara yang dihubungi memberikan pernyataan yang menurutnya cukup jelas.
Menurut Hamdan, dari hasil komunikasi tersebut, negara-negara terkait termasuk Indonesia memastikan "mereka tidak akan menjadi pihak yang menjalankan agenda Israel terhadap rakyat Palestina."
"Kami mendengar pernyataan yang jelas dari semua negara ini bahwa mereka tidak akan menjadi pihak yang melaksanakan agenda Israel terhadap rakyat Palestina atau melakukan agresi terhadap mereka," kata Osama.
"Anda mendengar ini secara eksplisit dari pemerintah Indonesia: mereka tidak akan menjadi pihak atau pelaksana agenda Israel apa pun di Jalur Gaza," imbuh dia. $