Rupiah Keok Hari Ini! Dolar AS Nyaris Tembus Rp16.900, Konflik Iran-AS Jadi Biang Keroknya?

news.fin.co.id - 18/02/2026, 17:11 WIB

Rupiah Keok Hari Ini! Dolar AS Nyaris Tembus Rp16.900, Konflik Iran-AS Jadi Biang Keroknya?

Ilustrasi mata uang rupiah

fin.co.id - Kabar mengejutkan datang dari pasar valuta asing hari ini. Mata uang Garuda kesayangan kita, Rupiah, terpaksa harus bertekuk lutut di hadapan keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan di Jakarta hari Rabu ini, nilai tukar Rupiah terpantau loyo dan bergerak melemah cukup dalam. Fenomena ini tentu membuat para pelaku pasar dan investor mulai ketar-ketir melihat tren pergerakan kurs yang semakin menjauh dari level psikologisnya.

Rupiah menutup hari dengan koreksi sebesar 47 poin atau anjlok sekitar 0,28 persen. Angka ini membawa mata uang kebanggaan Indonesia tersebut bertengger di posisi Rp16.884 per dolar AS. Padahal, pada penutupan sebelumnya, posisi Rupiah masih berada di level Rp16.837 per dolar AS. Tekanan yang begitu masif dari faktor eksternal seolah tidak memberikan celah bagi Rupiah untuk sekadar bernapas lega di zona hijau.

Skeptisisme Pasar: Hubungan Iran-AS Masih Memanas

Apa sebenarnya yang membuat pasar begitu khawatir? Ternyata, biang kerok utamanya adalah rasa skeptis para investor terhadap kelanjutan perundingan antara Iran dan Amerika Serikat. Meski sempat ada kabar segar mengenai kesepahaman tentang "prinsip-prinsip panduan" nuklir pada Selasa kemarin, nyatanya pasar tidak lantas percaya begitu saja. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah ini langsung memicu aksi hindari risiko (risk-off) oleh para pemilik modal.

Advertisement

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa kesepahaman awal tersebut bukanlah jaminan sebuah kesepakatan final akan segera terwujud. Hal ini diperkuat oleh pernyataan langsung dari otoritas Iran yang menyebutkan bahwa perjalanan menuju solusi masih panjang dan berliku. Akibatnya, sentimen negatif ini menjalar ke pasar uang global dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Walaupun Iran dan AS mencapai kesepahaman pada hari Selasa (17/2) mengenai 'prinsip-prinsip panduan' utama dalam pembicaraan yang bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan nuklir mereka yang telah berlangsung lama, tetapi itu tidak berarti kesepakatan akan segera tercapai,” ungkap Ibrahim Assuaibi mengutip Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.

Pasar Energi Terancam: Selat Hormuz Jadi Titik Nadir

Ketegangan antara Iran dan AS ini bukan hanya soal nuklir, tapi juga soal urat nadi energi dunia. Iran merupakan produsen minyak utama yang memegang kendali atas Selat Hormuz. Jalur sempit ini adalah wilayah paling strategis di dunia karena menjadi perlintasan bagi sekitar seperlima konsumsi minyak global setiap harinya. Gangguan sedikit saja di wilayah ini bisa memicu lonjakan harga energi yang akan berimbas pada inflasi global.

Kondisi semakin mencekam setelah adanya laporan mengenai latihan militer yang dilakukan oleh Garda Revolusi Iran di Selat Hormuz pada awal pekan ini. Di sisi lain, kehadiran militer AS yang masif di Timur Tengah membuat risiko bentrokan bersenjata tetap berada di level tertinggi. Ancaman militer inilah yang membuat investor lebih memilih mengamankan aset mereka ke dalam bentuk safe haven seperti dolar AS, ketimbang memegang aset di negara berkembang.

Menanti Sinyal The Fed: Akankah Suku Bunga Turun?

Selain faktor geopolitik yang mendidih, mata investor kini juga tertuju pada kebijakan moneter Amerika Serikat. Pasar tengah menantikan rilis risalah pertemuan kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang berlangsung pada bulan Januari lalu. Risalah ini sangat dinantikan karena bisa memberikan bocoran atau wawasan baru mengenai kapan tepatnya pelonggaran kebijakan moneter atau penurunan suku bunga akan dilakukan.

Investor juga sedang dalam posisi wait and see menanti rilis data penting lainnya di akhir pekan ini. Laporan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS untuk bulan Desember akan segera keluar pada hari Jumat. Perlu diingat, PCE adalah indikator inflasi favorit The Fed. Hasil dari data ini akan sangat menentukan arah ekspektasi suku bunga di masa depan. Jika inflasi tetap membandel, jangan harap dolar AS akan melemah dalam waktu dekat.

Advertisement

Kurs JISDOR Ikut Melemah Tajam

Kelesuan mata uang Garuda tidak hanya terlihat di pasar spot, tetapi juga tercermin dalam kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Berdasarkan data terbaru, kurs JISDOR bergerak melemah ke level Rp16.884 per dolar AS. Angka ini turun cukup signifikan dari posisi hari sebelumnya yang tercatat di level Rp16.844 per dolar AS.

Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis

Pemimpin Redaksi FIN.CO.ID