Mereka kini giat mencari imbal hasil (yield) yang tinggi di tengah ketidakpastian yang melanda sektor teknologi di negara-negara maju.
Kebijakan Moneter Stabil: Amunisi Penguat IHSG
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) kembali menunjukkan komitmennya terhadap stabilitas.
BI secara resmi memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75 persen pada pertemuan di bulan Februari 2026.
Keputusan ini sejalan sepenuhnya dengan ekspektasi para pelaku pasar, sehingga memberikan rasa kepastian di tengah gejolak ekonomi global yang sedang terjadi.
Kombinasi antara suku bunga acuan yang stabil, langkah proaktif OJK dalam mencegah penurunan peringkat MSCI, serta daya tarik instrumen obligasi nasional menjadi modal yang sangat kuat bagi perekonomian Indonesia.
Semua elemen ini berpadu untuk mendorong ekonomi Indonesia terus melaju dengan kencang.
Para investor kini menantikan dengan penuh harap apakah amunisi kebijakan yang dimiliki Indonesia ini cukup ampuh untuk mendongkrak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus rekor baru.
Terutama di sisa kuartal pertama tahun ini, potensi kenaikan IHSG sangat terbuka lebar.
Jadi, pertanyaan pentingnya adalah, apakah sekarang saat yang tepat untuk menambah porsi investasi Anda di pasar obligasi, atau sebaiknya Anda tetap memantau pergerakan harga minyak yang bergejolak?
Satu hal yang pasti, Indonesia telah membuktikan ketangguhannya dalam mempertahankan posisinya di kasta elite pasar modal dunia, sebuah pencapaian yang patut dibanggakan. (*)