fin.co.id - Jagat media sosial kembali heboh dengan aksi arogan seorang pengendara mobil di Jakarta Timur. Pria yang sebelumnya viral karena mengaku sebagai anggota aparat berpangkat tinggi ini diduga melakukan penganiayaan brutal terhadap tiga pegawai SPBU di kawasan Cipinang. Namun, sebuah fakta mengejutkan baru saja terungkap dari hasil penyelidikan kepolisian yang membuat publik geleng-geleng kepala.
Polres Metro Jakarta Timur memastikan bahwa pria yang bergaya bak pejabat tersebut bukanlah anggota kepolisian maupun TNI. Identitas aslinya kini mulai terkuak setelah video kekerasannya tersebar luas dan memancing kemarahan netizen. Kasus ini pun kini naik ke meja hijau dengan pengawasan ketat dari pihak berwajib.
Polisi Bongkar Identitas Asli: Bukan Aparat, Cuma Sipil Biasa!
Banyak pihak sempat menduga pelaku memiliki bekingan kuat karena keberaniannya melakukan pemukulan di tempat umum. Namun, Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Timur, AKBP Dicky Fertoffan, secara tegas membantah klaim sepihak pelaku yang mengaku sebagai aparat. Setelah melakukan penelusuran mendalam, polisi memastikan bahwa status pria tersebut adalah warga sipil murni.
Tak hanya status pribadinya, kendaraan yang ia gunakan saat kejadian juga menjadi sorotan. Mobil tersebut dipastikan bukan milik institusi Polri atau pejabat negara. "Iya, sipil (bukan aparat). Mobil punya orang sipil," ujar Dicky saat dikonfirmasi pada Selasa, 24 Februari 2026. Fakta ini tentu mematahkan gertakan pelaku yang sebelumnya sempat membuat nyali korban ciut.
Kronologi Berdarah: Dipicu Penolakan Isi Pertalite Akibat Pelat Palsu
Berdasarkan hasil pendalaman awal Satreskrim Polres Metro Jakarta Timur, insiden ini bermula dari masalah pengisian bahan bakar minyak (BBM). Terduga pelaku diketahui hendak mengisi Pertalite, namun petugas SPBU menolak melayani permintaan tersebut. Penolakan ini bukan tanpa alasan, melainkan karena adanya kejanggalan pada administrasi kendaraan pelaku.
Petugas di lapangan menemukan bahwa pelat nomor kendaraan yang terpasang tidak sesuai dengan peruntukannya. "Yang bersangkutan mau isi Pertalite, tidak dilayani oleh SPBU. Pelat-nya tidak sesuai. Tidak untuk peruntukkannya," terang Dicky. Merasa tidak terima dengan aturan tegas pihak SPBU, pria tersebut langsung tersulut emosi dan mulai melakukan tindakan fisik.
Kesaksian Korban: Gigi Patah Hingga Saraf Terganggu
Salah satu korban kebrutalan ini adalah Abud Mahmudin (28), seorang operator yang sudah mengabdi selama empat tahun di SPBU Cipinang. Abud menceritakan bahwa situasi mendadak ricuh saat rekannya ditampar oleh pelaku. Saat ia mencoba mendekat untuk melihat situasi, pelaku justru mengalihkan amarahnya kepada Abud.
"Saya nggak ngomong apa-apa, cuma lihat doang. Pas teman saya kena tampol, saya refleks. Eh dia malah nandain saya, nunjuk-nunjuk ke saya," ungkap Abud dengan nada sedih. Pelaku kemudian melayangkan pukulan bertubi-tubi ke arah wajah, pipi, hingga bagian belakang telinga Abud.
Dampak dari serangan tersebut sangat fatal bagi kesehatan fisik Abud. "Gigi saya patah jadi setengah, nggak rata. Berdarah karena kena sarafnya," tuturnya. Hingga saat ini, Abud masih kesulitan untuk makan dan merasakan ngilu yang luar biasa setiap kali berbicara. Korban telah menjalani visum dan mendapatkan perawatan medis intensif untuk memulihkan kondisinya.
Propam Polda Metro Jaya Turun Tangan Selidiki Kasus
Meski polisi sudah menyatakan pelaku adalah warga sipil, Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Metro Jaya tetap turun langsung ke lapangan. Keterlibatan Propam bertujuan untuk memastikan tidak ada keterlibatan oknum anggota dalam insiden ini serta mendalami klaim pelaku yang sempat mengaku sebagai aparat jabatan tinggi.
Kabid Propam Polda Metro Jaya, Kombes Radjo Alriadi Harahap, menyatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Satreskrim Polrestro Jaktim. "Masih kami dalami dengan Reskrim Polrestro Jaktim terhadap pelaku pemukulan dimaksud," sebut Radjo. Langkah ini diambil untuk menjaga citra institusi kepolisian dari oknum sipil yang hobi mencatut nama aparat demi kepentingan pribadi.