Risiko Jangka Panjang Jika Dipaksakan
Pengalaman negatif di masa awal sekolah berisiko membentuk persepsi keliru tentang belajar. Anak bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa belajar itu sulit, menakutkan, atau tidak menyenangkan.
Jika persepsi ini terbentuk sejak dini, motivasi belajar dapat menurun drastis. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi memengaruhi capaian akademik dan kesehatan mental anak.
Karena itu, kesiapan sekolah tidak seharusnya hanya diukur dari usia. Setiap anak memiliki tempo perkembangan yang berbeda.
Peran Orang Tua Sangat Krusial
Hesti menegaskan bahwa kesiapan anak tidak terbentuk secara instan. Proses ini dibangun melalui pola asuh yang konsisten sejak usia dini.
Salah satu pendekatan yang direkomendasikan adalah pola asuh 5R, yaitu:
1. Reading (Membaca)
Membacakan buku cerita atau dongeng secara rutin membantu anak mengenal kosakata, struktur bahasa, serta mengembangkan kemampuan berpikir naratif. Aktivitas ini juga melatih fokus dan kemampuan mendengar yang sangat dibutuhkan di kelas.
2. Rhyming (Bermain Rima)
Mengajak anak bernyanyi atau bermain rima membantu perkembangan bahasa dan fonologi. Anak belajar mengenali bunyi dan ritme, yang menjadi dasar penting dalam membaca dan menulis.
3. Routines (Rutinitas)
Rutinitas harian yang konsisten—seperti waktu tidur, makan, dan bermain—memberi rasa aman dan mengajarkan struktur. Anak yang terbiasa dengan jadwal akan lebih mudah memahami aturan dan mengatur diri saat berada di lingkungan sekolah.
4. Rewarding (Apresiasi)
Penguatan positif tidak harus berupa hadiah materi. Pujian dan apresiasi atas usaha anak mampu meningkatkan rasa percaya diri serta motivasi belajar. Anak belajar menghargai proses, bukan hanya hasil.