fin.co.id - Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyoroti perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang tengah berlangsung di Jenewa, Swiss, pada penghujung Februari 2026. Ia menilai momen tersebut berpotensi menjadi titik balik yang menentukan arah sejarah dunia.
Dalam pandangannya, kota Jenewa yang dikenal sebagai simbol perdamaian kini berada dalam sorotan global. “Jenewa kota yang indah, damai dan saat ini hawanya sejuk. Namun, jam-jam ini, hari-hari mendatang, kota yang penuh legenda ini bisa menjadi saksi sejarah. Bisa melahirkan sebuah ‘game change’ yang berimplikasi besar pada perkembangan dunia,” ujar SBY dikutip keterangan tertulis, Sabtu 28 Februari 2026.
Perundingan yang dilakukan secara tidak langsung melalui mediator itu membahas isu krusial, terutama terkait masa depan proyek nuklir Iran. Banyak negara, khususnya di kawasan Timur Tengah, disebut menanti hasil negosiasi tersebut.
SBY mengakui bahwa perundingan menyangkut isu strategis seperti nuklir bukan perkara mudah. Kepentingan kedua negara sangat berbeda, sementara situasi geopolitik di kawasan juga sedang memanas.
“Semua tahu bahwa negosiasi, utamanya menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sesuatu yang sangat rumit dan tidak mudah untuk membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak,” katanya.
Ia juga menyinggung karakter dua pemimpin yang berada di balik proses tersebut, yakni Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei. Menurutnya, keduanya memiliki karakter dan kepentingan masing-masing yang turut memengaruhi dinamika perundingan.
Sebagai sosok yang memiliki pengalaman panjang dalam resolusi konflik, SBY menekankan bahwa negosiasi selalu membutuhkan kesabaran dan kesiapan untuk berkompromi.
“Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, saya mesti mengatakan bahwa sebuah negosiasi itu sangat melelahkan. Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah ‘take and give’,” ujarnya.
Terkait prediksi sejumlah pihak bahwa kegagalan perundingan akan langsung memicu perang besar, SBY menilai kemungkinan tersebut tidak bisa disimpulkan secara sederhana.
“Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak,” kata dia.
Menurut SBY, keputusan untuk berperang bukan langkah yang bisa diambil secara gegabah. Risiko dan konsekuensinya sangat besar, baik bagi pemimpin maupun rakyat yang dipimpinnya. Ia mengingatkan pentingnya membedakan antara “war of necessity” dan “war of choice” sebelum mengambil keputusan militer.
SBY juga mengingatkan Amerika Serikat untuk mempertimbangkan pengalaman masa lalu dalam konflik di Vietnam, Irak, dan Afghanistan. Ia menekankan bahwa Iran memiliki karakteristik dan kapasitas berbeda sehingga tidak bisa disamakan dengan negara-negara tersebut.
Menutup pandangannya, SBY menyampaikan pesan moral kepada para pemimpin dunia yang memiliki kewenangan memutuskan perang. Ia menekankan bahwa prajurit bukan sekadar alat tempur, melainkan manusia yang memiliki keyakinan dan harapan.
“Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – ‘Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for’ (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati),” ujar SBY.