Harga Minyak Dunia Meledak Usai Iran Tutup Selat Hormuz, Bagaimana Nasib BBM di Indonesia?

news.fin.co.id - 02/03/2026, 19:37 WIB

Harga Minyak Dunia Meledak Usai Iran Tutup Selat Hormuz, Bagaimana Nasib BBM di Indonesia?

Ilustrasi - Pergerakan harga minyak dunia

fin.co.id - Dunia sedang geger. Konflik di Timur Tengah yang semakin memanas pasca-serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran telah memicu kekacauan besar di pasar energi global. Harga minyak dunia mendadak melonjak tajam sebesar 7 persen pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026. Angka ini menjadi level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, membuat banyak pihak waswas akan dampaknya bagi ekonomi domestik.

Ketegangan ini mencapai titik didih setelah Iran memutuskan untuk menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan yang menewaskan sejumlah petinggi militer dan negara Iran, termasuk pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Di tengah kepanikan pasar global, publik di Indonesia bertanya-tanya mengenai nasib ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan potensi dampaknya terhadap subsidi energi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, akhirnya memberikan tanggapan terkait situasi genting ini.

Stok BBM Nasional: Cukup untuk 20 Hari

Advertisement

Bahlil Lahadalia memastikan bahwa hingga saat ini, kondisi energi di tanah air masih dalam status aman. Pemerintah melalui Kementerian ESDM terus memantau cadangan BBM nasional agar tidak terjadi kelangkaan di masyarakat.

"Masih cukup, 20 hari," ujar Bahlil dengan tegas saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 2 Maret 2026.

Meskipun stok cadangan saat ini masih mencukupi kebutuhan masyarakat, Bahlil tidak menampik bahwa lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik Timur Tengah ini akan segera memberikan efek domino. Ia mengakui bahwa koreksi harga minyak dunia merupakan hal yang tidak terelakkan jika situasi geopolitik di kawasan produsen energi tersebut terus memburuk.

Subsidi Energi Masih Aman, Tapi Pemerintah Waspada

Terkait isu subsidi BBM yang selalu menjadi kekhawatiran utama masyarakat setiap kali harga minyak dunia melambung, Bahlil memberikan pernyataan menenangkan. Menurutnya, sejauh ini subsidi energi di Indonesia belum terganggu oleh eskalasi konflik yang terjadi.

"Sampai hari ini (subsidi BBM) enggak ada masalah, tapi kan harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik terus memanas di Timur Tengah," jelas Ketua Umum Partai Golkar ini.

Namun, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa tinggal diam menghadapi ketidakpastian ini. Pemerintah harus bergerak cepat menyusun strategi mitigasi agar guncangan harga minyak internasional tidak memukul daya beli masyarakat Indonesia secara drastis.

Langkah Antisipasi Pemerintah: Rapat Darurat Menanti

Menanggapi situasi yang sangat dinamis ini, Kementerian ESDM tidak ingin kecolongan. Bahlil menjadwalkan rapat krusial dengan Dewan Energi Nasional (DEN) untuk membahas dampak jangka panjang serta langkah-langkah antisipasi yang paling tepat bagi Indonesia.

Advertisement

"Nanti besok Insya Allah saya rapat di ESDM, kami akan rapat dengan Dewan Energi Nasional," pungkasnya.

Rapat ini diharapkan dapat menghasilkan solusi konkret terkait manajemen cadangan energi dan kebijakan subsidi di tengah ancaman krisis pasokan yang mungkin timbul akibat penutupan jalur vital Selat Hormuz. Bagi masyarakat, informasi ini menjadi pengingat untuk tetap bijak dalam konsumsi energi, mengingat posisi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak yang sangat bergantung pada stabilitas harga dan jalur pelayaran global.

Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis

Pemimpin Redaksi FIN.CO.ID