Fin.co.id - Dalam podcast NTB Satu, seorang PSK (Pekerja Seks Komersial) menggunakan nama samaran Bunga mengungkap rangkaian peristiwa yang disebutnya sebagai awal dari trauma panjang.
Menurut pengakuan Bunga, kisah ini bermula dari sebuah perkenalan yang tampak normal. Ia dikenalkan kepada seorang perwira polisi AKBP Didik Putra Kuncoro (DPK) dan istrinya, Miranti Afriana, melalui seorang teman.
Tidak ada kecurigaan saat itu. Beberapa waktu setelah perkenalan tersebut, ia mengklaim didatangi oleh orang-orang yang disebut sebagai bawahan sang perwira. Ia mengatakan dijemput dari rumah tanpa banyak penjelasan.
“Saya hanya dijemput. Tidak diberi tahu mau ke mana atau untuk apa,” tuturnya.
Di tengah perjalanan menuju Senggigi, seorang ajudan yang berada di dalam mobil disebut meminta ia dan temannya untuk mematikan telepon genggam.
“Tidak ada alasan. Hanya perintah,” katanya.
Bagi Bunga, momen itulah yang menjadi titik awal rasa tidak nyaman. Ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa dari cara semuanya diatur.
Ia mengaku sempat merasa penjemputan tersebut bukan sekadar ajakan biasa. Dalam narasinya, ia menduga ada maksud lain di balik tindakan itu.
“Seolah mereka ingin tahu di mana saya tinggal. Supaya kalau suatu hari terjadi sesuatu, mereka tahu lokasi saya,” ujarnya.
Ia bahkan menduga pola serupa dialami beberapa rekannya. Namun seluruh pernyataan tersebut masih merupakan klaim sepihak dan belum mendapatkan tanggapan resmi dari pihak yang disebut.
Sesampainya di kawasan tujuan, Bunga tidak langsung dibawa ke lokasi akhir. Ia menyebut sempat diarahkan ke tempat lain sebelum akhirnya berpindah lagi.
“Seperti dibelokkan arahnya,” katanya.
Ia dan temannya sempat dipisahkan. Temannya disebut diminta menemani seseorang yang disapa “Koko”.
Sementara ia diarahkan oleh dua ajudan ke kamar yang disebut sebagai kamar ajudan.
Di sana, ia menunggu. Tak lama kemudian, AKBP Didik datang dan mengajaknya pindah ke kamar lain.