fin.co.id – Puluhan ribu jemaah umrah mengalami kesulitan pulang ke Indonesia akibat konflik yang pecah antara Israel-Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Serangan balasan Iran tidak hanya menyasar wilayah Israel, tetapi juga menargetkan sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Akibatnya, jalur penerbangan di negara-negara terdampak ditutup sementara.
Hal ini diungkapkan pemilik Ammar Tour & Travel, H. Marwan, yang mengaku terkena dampak langsung dari konflik tersebut.
"Ini sangat-sangat susah ya karena banyak orang panik juga dari jamaah lain ya apalagi 58 ribuan data SISKOPATUH masih belum bisa pulang ya jamaah terdampak keadaan perang ini," kata H. Marwan saat dikonfirmasi, Selasa, 3 Maret 2026.
Kondisi serupa dialami jemaah umrah yang diberangkatkan melalui travelnya. Grup umrah yang seharusnya pulang pada 1 Maret 2026 melalui Qatar Airline terpaksa dibatalkan karena penerbangan di Doha International Airport ditutup sementara selama tujuh hari sejak 28 Februari 2026.
H. Marwan harus memproses pengembalian biaya tiket (refund) dan mencari alternatif penerbangan dari negara lain agar jemaah bisa segera kembali ke Indonesia. Namun, penutupan rute juga diberlakukan oleh maskapai lain seperti Etihad Airways (Dubai) dan Emirates (UEA).
Akibat situasi ini, jemaah sementara diinapkan kembali di hotel Mekah, dengan biaya sahur dan buka puasa tetap ditanggung pihak travel.
"Jamaah saat ini masih berada di Mekah, kita inapkan lagi di hotel Mekah kemudian untuk sahur dan buka puasa kita tanggung juga untuk jamaah," ungkap H. Marwan.
Beruntung, pihak travel berhasil mendapatkan penerbangan ke Jakarta melalui Garuda Indonesia, sehingga jemaah dapat dipulangkan pada 4 Maret 2026.
"Atas berkat rahmat Allah dan manajemen Amar Tour Alhamdulillah mendapatkan Garuda," kata H. Marwan.
Ia berharap situasi di Timur Tengah segera membaik, mengingat minat umat untuk menjalani umrah di bulan Ramadan dan Syawal sangat tinggi.
"Karena dzulqo'dah sudah tidak ada umrah lagi karena persiapan haji," pungkasnya.
Cahyono/Disway