fin.co.id - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu gejolak besar di pasar energi global. Aksi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang kemudian dibalas oleh Teheran membuat harga minyak dunia melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama karena kawasan Teluk Persia merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.
Laporan dari Qatar News Agency (QNA) menyebutkan bahwa harga resmi minyak mentah Oman bahkan telah melampaui angka 100 dolar AS per barel pada Jumat (6/3/2026).
Harga minyak tersebut tercatat mencapai 100,31 dolar AS per barel untuk pengiriman Mei, naik signifikan dibandingkan dengan harga pada Kamis yang berada di level 94,47 dolar AS per barel.
Lonjakan tersebut menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi global terhadap konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Selain minyak mentah Oman, harga minyak global lainnya juga mengalami kenaikan signifikan.
Berdasarkan data dari Yahoo Finance:
-
Minyak mentah Brent naik 8,38 persen menjadi 92,57 dolar AS per barel
-
West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 11 persen menjadi 90,02 dolar AS per barel
Lonjakan harga tersebut terjadi setelah Presiden Amerika Serikat menegaskan bahwa tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali penyerahan tanpa syarat.
Pernyataan keras tersebut memperbesar ketegangan geopolitik sekaligus meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Perdagangan Minyak Dunia
Salah satu faktor terbesar yang memicu lonjakan harga minyak adalah ancaman gangguan pada jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Selat ini merupakan jalur vital bagi distribusi energi dunia karena sekitar 15 juta barel minyak per hari melewati wilayah tersebut.
Angka ini setara dengan hampir 30 persen perdagangan minyak laut global.