Menurutnya, seorang peneliti harus siap menerima kritik, bahkan cemoohan, ketika menyampaikan hasil penelitian.
Dalam pernyataan tertulisnya, Gibran menilai momen Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan dan saling memaafkan.
Ia mengapresiasi sikap Rismon yang bersedia mengklarifikasi pernyataan sebelumnya kepada publik.
“Ramadan adalah bulan yang baik untuk saling memaafkan dan merajut kembali persaudaraan,” kata Gibran.
Ia juga menyebut langkah Rismon meninjau ulang temuannya sebagai bentuk kedewasaan dalam kehidupan demokrasi.
Rismon Tegaskan Ijazah Jokowi dan Gibran Asli
Selain menyampaikan permintaan maaf, Rismon juga menegaskan bahwa hasil penelitian terbarunya menunjukkan keaslian ijazah Presiden Jokowi maupun Wakil Presiden Gibran.
Peneliti yang dikenal sebagai ahli digital forensik itu mengaku menemukan sejumlah bukti baru setelah melakukan kajian lebih mendalam selama beberapa bulan terakhir.
“Iya, ijazahnya asli. Kebenaran itu kadang menyakitkan, tapi lebih menyakitkan lagi jika saya tidak menyampaikannya secara jujur,” tegas Rismon.
Dalam penelitian terbarunya, Rismon mengidentifikasi beberapa elemen penting dalam dokumen ijazah yang menunjukkan konsistensi keaslian.
Beberapa fitur tersebut antara lain:
- adanya emboss pada bagian dokumen
- keberadaan watermark
- kesesuaian fitur dengan dokumen pembanding
Analisis tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor teknis, termasuk sudut pencahayaan dan karakteristik kamera saat foto dokumen diambil.
Ia juga membandingkan dokumen tersebut dengan foto ijazah yang pernah dipublikasikan oleh pihak lain.
Untuk meluruskan polemik yang sebelumnya muncul, Rismon menyatakan akan menulis buku baru yang berisi koreksi terhadap dua bukunya terdahulu.