Minyak Dunia Makin Meroket, Trump Minta Koalisi 7 Negara Kirim Kapal Perang di Selat Hormuz

news.fin.co.id - 16/03/2026, 08:18 WIB

Minyak Dunia Makin Meroket, Trump Minta Koalisi 7 Negara Kirim Kapal Perang di Selat Hormuz

Presiden Trump mendesak tujuh negara kirim kapal perang amankan Selat Hormuz saat perang Iran memanas dan harga minyak melonjak.Foto:X@Iran

fin.co.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan desakan keras kepada sedikitnya tujuh negara untuk segera mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz. Langkah ini bertujuan untuk mengamankan jalur pelayaran internasional tersebut di tengah melonjaknya harga minyak dunia akibat berkecamuknya perang dengan Iran.

Meski demikian, hingga Senin 16 Maret 2026, seruan tersebut belum mendapatkan komitmen pasti dari negara-negara mitra. Dalam keterangannya saat terbang kembali ke Washington, Trump menegaskan bahwa negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan minyak mentah Timur Tengah harus bertanggung jawab melindungi jalur mereka sendiri.

"Saya menuntut negara-negara ini hadir dan melindungi wilayah mereka sendiri, karena itu adalah kepentingan mereka," ujar Trump.

Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki ketergantungan besar terhadap jalur tersebut karena memiliki akses minyak sendiri, berbeda dengan China yang menyerap sekitar 90 persen kebutuhan energinya dari Selat Hormuz.

Advertisement

Situasi di jalur air tersebut kian genting setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa pihaknya telah menerima pendekatan dari sejumlah negara yang meminta jaminan keamanan lintas kapal.

Araghchi menegaskan bahwa keputusan izin melintas sepenuhnya berada di tangan militer Iran. Teheran secara konsisten menyatakan Selat Hormuz terbuka bagi siapa saja, kecuali Amerika Serikat dan sekutunya.

Ketegangan ini bermula sejak serangan terkoordinasi pada 28 Februari lalu yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat. Dampak perang ini tidak hanya melumpuhkan jalur logistik, tetapi juga menelan korban jiwa yang terus meningkat di wilayah regional.

Badan Energi Internasional (IEA) bahkan berencana melepaskan cadangan minyak darurat sebanyak 412 juta barel untuk meredam lonjakan harga di pasar global.

Di sisi lain, sekutu tradisional seperti Inggris dan Korea Selatan masih bersikap hati-hati. Inggris menekankan pentingnya pembukaan kembali selat untuk mengakhiri gangguan pengiriman global tanpa merinci komitmen militer. Sementara itu, Prancis lebih memilih opsi misi internasional pengawalan kapal yang dilakukan saat situasi mulai mereda.

Kekhawatiran global kian memuncak menyusul laporan serangan rudal dan pesawat tak berawak yang menyasar infrastruktur ekonomi di negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Kuwait.

Iran menuduh AS meluncurkan serangan dari pangkalan di Uni Emirat Arab, sebuah klaim yang langsung dibantah oleh otoritas setempat. Saat ini, dunia menanti apakah desakan Trump ini akan menciptakan koalisi militer baru atau justru memperdalam kebuntuan diplomatik di Timur Tengah.

Lina
Lina
Penulis

Penulis FIN.CO.ID