Tradisi Langka Betawi Kembali! Andilan Potong Kebo Digelar Lagi, Sarat Makna Toleransi

news.fin.co.id - 17/03/2026, 12:29 WIB

Tradisi Langka Betawi Kembali! Andilan Potong Kebo Digelar Lagi, Sarat Makna Toleransi

Majelis Kaum Betawi (MKB) kembali menghadirkan tradisi Andilan Potong Kebo sebagai bagian dari penyambutan Hari Raya Idul Fitri.

fin.co.id - Majelis Kaum Betawi (MKB) kembali menghadirkan tradisi Andilan Potong Kebo sebagai bagian dari penyambutan Hari Raya Idul Fitri. Agenda budaya ini dijadwalkan berlangsung pada 18 Maret 2026 di Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Pondok Ranggon, Jakarta Timur.

Ketua Dewan Adat MKB, Fauzi Bowo, menegaskan Andilan Potong Kebo merupakan warisan budaya Betawi yang memiliki nilai penting dan perlu dijaga keberlangsungannya sebagai identitas masyarakat Betawi.

“Tradisi ini adalah warisan leluhur masyarakat Betawi yang mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, serta solidaritas sosial. Karena itu harus terus dijaga dan dilestarikan,” ujar Fauzi Bowo yang akrab disapa Bang Foke.

Sebelumnya, tradisi ini telah dilaksanakan pada 2025 atas prakarsa tokoh Betawi Marullah Matali di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, yang turut dihadiri Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno.

Advertisement

Pada penyelenggaraan tahun ini, kegiatan tersebut juga direncanakan akan dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo.

Ketua Panitia Andilan Potong Kebo 2026, M Ichwan Ridwan atau Bang Boim, menjelaskan, tradisi andilan telah lama hidup di tengah masyarakat Betawi, baik di lingkungan permukiman maupun dalam komunitas majelis taklim. Dalam praktiknya, warga mengumpulkan iuran secara bersama untuk membeli seekor kerbau yang kemudian disembelih menjelang Lebaran.

“Setiap orang memberikan iuran secara berkala. Dari patungan itu kemudian dibelikan kerbau. Ketika dipotong menjelang Lebaran, setiap peserta akan mendapatkan bagian daging, jeroan, dan lainnya sesuai dengan nilai andilannya,” ujar Boim.

Ia menekankan bahwa tradisi ini tidak sekadar proses penyembelihan dan distribusi daging, melainkan juga mengandung makna kebersamaan serta keadilan sosial.

“Melalui tradisi andilan, masyarakat diajarkan untuk berkolaborasi dan saling membantu dalam memenuhi kebutuhan bersama. Ini yang membuat masyarakat Betawi sejak dulu dikenal kompak dan guyub,” katanya.

Lebih jauh, Andilan Potong Kebo juga mencerminkan prinsip keadilan, di mana setiap peserta memperoleh bagian sesuai dengan kontribusi yang diberikan.

Di sisi lain, Sekretaris Panitia Pelaksana, Muhidin Muchtar, menyampaikan bahwa tradisi ini juga sarat dengan nilai toleransi antarumat beragama yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Betawi. Ia menjelaskan bahwa sejak dahulu masyarakat Betawi cenderung memilih kerbau dibandingkan sapi untuk konsumsi saat Lebaran.

“Pada masa lalu ketika Betawi masih bernama Sunda Kelapa, banyak masyarakat yang memeluk agama Hindu dan mensucikan sapi. Karena itu, masyarakat Betawi yang telah memeluk Islam memilih kerbau sebagai hewan yang disembelih agar tidak menyinggung perasaan saudara mereka yang berbeda keyakinan,” jelas Muhidin.

Menurutnya, nilai toleransi tersebut penting untuk terus ditanamkan kepada generasi muda, terutama dalam kehidupan masyarakat Jakarta yang beragam.

Advertisement

“Tradisi ini mengajarkan bahwa masyarakat Betawi sejak dahulu menjunjung tinggi sikap toleransi dan saling menghormati. Nilai-nilai ini penting untuk menjaga Jakarta tetap rukun, aman, dan harmonis,” tutupnya.

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID