Fin.co.id - Keterlibatan 4 anggota aktif Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI—termasuk tiga perwira dari matra Laut dan Udara—memperkuat dugaan aksi ini bukanlah kriminalitas jalanan biasa. Melainkan operasi terencana yang sangat rapi.
Puspom TNI kini bergerak melampaui para eksekutor untuk menyeret siapapun yang berada di puncak rantai komando.
Kecurigaan memuncak mengingat profil para tersangka yang berasal dari institusi elit intelijen pertahanan.
Puspom TNI saat ini sedang melakukan pembedahan mendalam terhadap tiga poin krusial yang bisa menjadi kunci pembuka kotak pandora kasus ini:
Fokus Penyelidikan
Analisis Logistik & Fasilitas
Penyidik melacak asal-usul cairan kimia korosif yang digunakan dan apakah ada penggunaan kendaraan atau fasilitas dinas saat para perwira ini melarikan diri dari kawasan Salemba.
Audit Rantai Komando
Investigasi difokuskan pada ada tidaknya "perintah lisan" atau laporan kegiatan yang mendasari pergerakan Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES pada malam kejadian.
Sinkronisasi Jejak Digital
Rekaman CCTV dan data komunikasi ponsel para tersangka sedang dicocokkan dengan jadwal piket resmi mereka untuk membuktikan adanya unsur kesengajaan meninggalkan pos demi melakukan aksi teror.
"Kami tidak akan berhenti pada eksekutor. Jika dalam pengembangan penyidikan ditemukan bukti permulaan yang cukup mengenai adanya perintah dari atasan, maka siapapun itu akan kami seret ke proses hukum. TNI tidak menoleransi tindakan pengecut seperti ini," tegas Danpuspom TNI Mayjen TNI Yusri Nuryanto.
Kondisi Kritis RSCM, Luka Bakar 20% dan Ancaman Kebutaan
Di sisi lain, perjuangan hidup Andrie Yunus masih berlangsung di High Care Unit (HCU) RSCM.
Kepala Divisi Pemantauan Impunitas KontraS, Jane Rosalina, mengungkapkan meski kondisi berangsur membaik, kerusakan fisik yang dialami Andrie sangatlah fatal akibat paparan zat asam korosif.