fin.co.id - Volume kendaraan yang meninggalkan wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek) dari H-10 sampai H-3 Idul Fitri 1447 H atau periode 11-18 Maret 2026 mencapai 1.483.703 kendaraan.
Menurut Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Rivan A Purwantono, angka tersebut dari empat gerbang tol (GT) utama, yaitu Cikampek (arah Trans Jawa), GT Kalihurip (arah Bandung), GT Cikupa (arah Merak), dan GT Ciawi (arah Puncak).
"Total volume lalin yang meninggalkan wilayah Jabotabek ini meningkat 30,1 persen jika dibandingkan dengan lalin normal yang 1.140.021 kendaraan," ujar Rivan, Kamis, 19 Maret 2026, dikutip Antara.
Rivan juga menjelaskan, 1,48 juta kendaraan yang telah meninggalkan wilayah Jabotabek tersebut merupakan 42,0 persen dari total proyeksi 3,5 juta kendaraan lalin keluar Jakarta selama periode 11-31 Maret 2026.
Untuk distribusi lalu lintas meninggalkan Jabotabek menuju ketiga arah yaitu mayoritas sebanyak 788.710 kendaraan (53,1 persen) menuju arah timur (Trans Jawa dan Bandung), 402.945 kendaraan (27,2 persen) menuju arah barat (Merak), dan 292.048 kendaraan (19,7 persen) menuju arah selatan (Puncak).
Lalin meninggalkan Jabotabek menuju arah Trans Jawa melalui GT Cikampek Utama Jalan Tol Jakarta-Cikampek, dengan jumlah 523.223 kendaraan, meningkat sebesar 132,4 persen dari lalin normal.
Kemudian, lalin meninggalkan Jabotabek menuju arah Bandung melalui GT Kalihurip Utama Jalan Tol Cipularang, dengan jumlah 265.487 kendaraan, meningkat sebesar 6,8 persen dari lalin normal.
Total lalin meninggalkan Jabotabek menuju arah Trans Jawa dan Bandung melalui kedua GT tersebut adalah sebanyak 788.710 kendaraan, meningkat sebesar 66,5 persen dari lalin normal.
Lalin meninggalkan Jabotabek menuju arah Merak melalui GT Cikupa Jalan Tol Tangerang-Merak adalah sebesar 402.945 kendaraan, meningkat 4,7 persen dari lalin normal.
Sementara itu, jumlah kendaraan yang meninggalkan Jabotabek menuju arah Puncak melalui GT Ciawi Jalan Tol Jagorawi sebanyak 292.048 kendaraan, meningkat 3,8 persen dari lalin normal.
Menanggapi lonjakan volume lalu lintas yang signifikan pada puncak arus mudik tersebut, Rivan menyampaikan bahwa rekayasa lalu lintas berupa one way nasional dan juga contraflow diberlakukan atas diskresi Kepolisian guna menjaga kelancaran arus mudik.
"Hingga saat ini masih berlangsung rekayasa lalu lintas one way dan contraflow melalui diskresi Kepolisian. Pemberlakuan ini berdasarkan data volume lalu lintas kendaraan yang meningkat signifikan dari arah Jakarta menuju Semarang, pantauan visual CCTV dan laporan petugas Kepolisian di lapangan," ujar Rivan.