Ini Materi Khutbah Idul Fitri Siap Pakai, Tema Sedih menyentuh Hati

news.fin.co.id - 19/03/2026, 06:25 WIB

Ini Materi Khutbah Idul Fitri Siap Pakai, Tema Sedih menyentuh Hati

Ilustrasi khutbah

قُلْ يَعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ج إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Hari ini rasa haru bahagia bercampur satu dalam kesedihan. Rasa bahagia karena datangnya hari kemenangan, namun dilain sisi akan ada rasa sedih atas kepergian bulan Ramadhan.

Bulan yang penuh dengan keberkahan. Rasulullah saw bersabda, "Apabila malam terakhir bulan Ramadhan tiba, maka menangislah langit, bumi, dan para malaikat karena musibah menimpa umat Muhammad saw.". Rasulullah ditanya, "Musibah apakah itu ya Rasulullah? Nabi saw menjawab, "Perginya bulan Ramadhan, karena di bulan Ramadhan itu semua doa diijabah, semua sedekah diterima, semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya dan siksa dihentikan." (Diriwayatkan dari Jabir).

Rasa sedih ini hanya dirasakan oleh orang yang merasakan nikmatnya Ramadan. Sebuah pepatah mengungkapkan:

Advertisement

مَنْ ذَاقَ حَلَاوَةَ الوِصَالِ ذَاقَ مَرَارَةَ الفِرَاقِ

Artinya:

“Siapa yang merasakan manisnya kebersamaan, akan merasakan pahitnya perpisahan.”

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, tetes air mata karena rasa sedih melepas kepergian Ramadhan, telah bercampur rasa haru bahagia karena telah diberi kesempatan berkumpul bersama keluarga.

Bahagia suka cita karena diberi kesempatan merayakan hari lebaran bersama-sama dengan orang yang terkasih dan yang tercinta.

Dilain sisi pula, ada mata yang menangis sedih, tertunduk sambil mengingat merenung, dimana sosok yang terkasih pada lebaran-lebaran sebelumnya masih berjabat erat, dan memeluk tubuh dengan hangat namun kini tak lagi bersama dengannya karena telah lebih dahulu menghadap kepada Tuhan. Terniang dan terekam dengan jelas canda tawa dan kebersamaan dengan sanak saudara, suami, isteri atau anak, dan cucu, namun kini sudah tak lagi.

Rasa sedih yang lebih mendalam, dirasakan oleh seorang anak yang merayakan lebaran tanpa sosok ibu bapaknya. Mengalir deras kerinduan saat mengenang terakhir berlebaran bersama, bersuka cita berangkat dengan penuh bahagia, di mana tangan masih bisa berjabat dengan erat dan merasakan pelukan yang penuh dengan kehangatan, memohon dan restu. Tetapi semua hal tersebut hanya menjadi ingatan yang terikat oleh kerinduan yang mendalam. Hanya untaian doa bersama kerinduan, semoga Tuhan mengumpulkan kelak di surganya nanti.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, dalam suasana seperti ini, di suatu waktu sebagaimana yang riwayatkan oleh Ka'ab bin Ujrah r.a.. Ketika Rasulullah menaiki tangga mimbar yang pertama, beliau berkata, "Amin." Ketika beliau menaiki tangga yang kedua, beliau pun berkata, "Amin." Ketika beliau menaiki tangga yang ketiga, beliau pun berkata, "Amin.". Setelah Rasulullah saw. turun dari mimbar, kami pun berkata, "Ya Rasulullah, sungguh kami telah mendengar dari engkau pada hari ini, sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya.". Rasulullah saw. bersabda:

أَرْغَمَ اللهُ أَنْفَ عَبْدٍ أَوْ بَعْدَ دَخَلَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَقُلْتُ : آمِينَ

Artinya:

Advertisement
Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca