"Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni mu dan Aku tidak peduli."
Untuk itulah di hari berkumpulnya kita di tempat ini, di hari yang fitri, hari yang suci, marilah kita menyucikan diri dengan bertaubat seraya merenung, menyesali, dan menangisi khilaf yang telah diperbuat.
Kedua, ketika aku menaiki tangga yang kedua, Jibril berkata:
رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعْدَ ، ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ ، فَقُلْتُ : آمين
Artinya:
"Celakalah orang yang apabila namamu disebutkan, dia tidak bersalawat ke atasmu." Aku pun berkata, "Amin.".
Rasulullah adalah tauladan mulia bagi umat manusia. Segala bentuk perjuangan dakwah Rasulullah saw adalah bentuk kasih sayang kepada umat manusia agar memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat.
Dalam sejarah disebutkan, perlakuan yang didapatkan oleh Rasulullah begitu tragis saat berdakwah ke Kota Thaif. Utusan Allah ini justru menjadi target pelecehan, penghinaan, umpatan, yang diluapkan dengan kata-kata kotor. Jibril bertutur kepada sang Nabi, "Apakah engkau mau aku timpakan dua gunung kepada mereka? Kalau itu kau inginkan maka akan aku lakukan.". Namun, Rasul tidak menghendakinya. Bahkan dia mengharapkan Allah akan menciptakan generasi bertakwa yang lahir dari tulang rusuk masyarakat di sana.
Kecintaan Rasulullah kepada umat sangat lah besar. Beliau bersabda, "aku rindu dengan kekasihku?". Para sahabat bertanya, "Bukankah kami adalah para kekasihmu?" Rasulullah menjawab, "Kalian memang sahabatku, para kekasihku adalah mereka yang tidak pernah melihatku, tetapi mereka percaya kepadaku.".
Atas dasar kecintaan Rasulullah itulah, sudah seharusnya kita senantiasa bersalawat kepada Rasulullah.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya:
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.".
Ketiga, ketika aku melangkah ke tangga ketiga, Jibril berkata:
رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يُدْخِلْهُ الْجَنَّةَ