fin.co.id - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Iran mengklaim berhasil menargetkan jet tempur F-15 milik pihak yang disebut sebagai agresor AS-Israel.
Insiden ini disebut terjadi di wilayah udara dekat Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Ahad, Tentara Republik Islam Iran menyebut bahwa Komando Pertahanan Udara Gabungan mereka telah melakukan intersepsi terhadap pesawat tempur musuh. Rudal darat ke udara dilaporkan ditembakkan ke arah jet tersebut di dekat pulau yang berada di kawasan strategis itu.
Meski demikian, pihak Iran menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan nasib akhir pesawat F-15 tersebut. Hingga saat ini, belum ada konfirmasi atau tanggapan resmi dari Amerika Serikat maupun Israel terkait klaim tersebut.
Laporan yang beredar, termasuk dari media Iran seperti Tehran Times, menyebut bahwa jet tersebut berhasil dicegat sebelum akhirnya jatuh di sekitar wilayah perairan dekat Selat Hormuz.
Jika klaim ini terbukti benar, maka insiden tersebut menjadi bagian dari rangkaian serangan yang telah menargetkan sedikitnya tujuh pesawat militer dalam beberapa waktu terakhir. Dari jumlah tersebut, tiga di antaranya disebut terjadi di wilayah udara Iran, sementara sisanya terjadi di kawasan regional, termasuk Kuwait.
Hal ini memperlihatkan eskalasi signifikan dalam konflik yang tengah berlangsung, sekaligus menunjukkan kesiapan Iran dalam menjaga wilayah udaranya dari ancaman eksternal.
Konflik ini juga diwarnai sejumlah insiden lain yang melibatkan pesawat militer canggih. Iran sebelumnya mengklaim menjadi negara pertama yang berhasil mengenai jet tempur siluman F-35 Lightning II milik AS.
Laporan dari CNN menyebut bahwa salah satu F-35 memang melakukan pendaratan darurat, meskipun pilotnya berhasil menyelamatkan diri. Investigasi terkait insiden tersebut masih berlangsung.
Tak hanya itu, pada 1 Maret lalu, tiga jet tempur F-15E Strike Eagle dilaporkan jatuh dalam insiden di Kuwait. Komando Pusat AS atau CENTCOM menyebut kejadian itu sebagai kesalahan tembak oleh sistem pertahanan udara Kuwait.
Di sisi lain, dua pesawat pengisi bahan bakar KC-135 Stratotanker juga mengalami insiden di wilayah udara Irak. Satu di antaranya dilaporkan jatuh dan menewaskan enam awak, sementara satu lagi berhasil melakukan pendaratan darurat di Bandara Ben Gurion, Israel.
Konflik Memanas Sejak Akhir Februari
Ketegangan antara Iran dengan AS dan Israel dilaporkan meningkat sejak serangan militer yang terjadi pada 28 Februari. Iran menuduh kedua negara tersebut melakukan agresi militer yang menargetkan wilayahnya, termasuk fasilitas sipil dan energi.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan berupa rudal dan drone ke berbagai target yang disebut sebagai aset militer AS dan Israel di kawasan.