fin.co.id - Mudik yang seharusnya jadi momen nyaman justru berubah jadi pengalaman tak menyenangkan bagi seorang penumpang bus PT Antar Lintas Sumatra (ALS). Keluhan ini viral di media sosial dan langsung menyedot perhatian publik, terutama karena menyangkut keselamatan dan kenyamanan penumpang selama perjalanan jarak jauh.
Seorang penumpang melalui akun Instagram @nurohmahkd membagikan pengalaman kurang menyenangkan saat menggunakan layanan bus ALS pada Rabu, 25 Maret 2026). Ia sengaja memilih bus ber-AC agar perjalanan mudik terasa lebih nyaman, apalagi ia membawa anak kecil.
Namun, realita di lapangan jauh dari ekspektasi.
Alih-alih mendapatkan kenyamanan, ia justru harus menghadapi kondisi kabin yang dipenuhi asap rokok. Sopir bus terlihat merokok saat mengemudi, dan situasi semakin parah ketika beberapa penumpang lain ikut merokok di dalam bus.
Teguran Tak Digubris, Penumpang Justru Membela Sopir
Situasi makin memanas ketika penumpang tersebut mencoba menegur. Ia berharap ada kesadaran bersama untuk menjaga kenyamanan, terutama karena ada anak kecil di dalam bus.
Sayangnya, respons yang diterima justru di luar dugaan.
Alih-alih mendapat dukungan, ia malah mendapat tanggapan tidak menyenangkan dari penumpang lain. Beberapa orang bahkan membela sopir dengan alasan bahwa sang pengemudi tidak bisa mengemudi tanpa merokok.
Kondisi ini memperlihatkan masih rendahnya kesadaran sebagian penumpang terhadap aturan dan etika di transportasi umum.
Asap rokok yang terus memenuhi kabin tidak hanya mengganggu, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan penumpang. Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa seorang balita mengalami mual hingga muntah akibat kondisi udara di dalam bus yang tercemar asap rokok.
Situasi ini tentu memicu kekhawatiran, terutama bagi keluarga yang membawa anak kecil dalam perjalanan jauh.
Masalah tidak berhenti di situ.
Penumpang juga mengeluhkan kondisi fasilitas bus yang tidak layak. Speaker yang rusak tetap diputar dengan suara keras, sehingga menambah ketidaknyamanan sepanjang perjalanan.
Alih-alih memberikan hiburan, suara dari speaker justru memperburuk pengalaman perjalanan yang sudah tidak kondusif.
Viralnya kejadian ini seharusnya menjadi momentum bagi semua pihak untuk berbenah. Operator bus perlu meningkatkan standar pelayanan, sementara penumpang juga harus lebih sadar akan hak dan kewajiban mereka.