fin.co.id - Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang bikin waspada. Gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur ini tercatat mengalami dua kali erupsi dalam waktu berdekatan pada Jumat pagi. Tinggi kolom letusan bahkan sempat mencapai 1.000 meter di atas puncak.
Informasi ini langsung menjadi perhatian karena status Semeru saat ini masih berada di Level III atau Siaga. Artinya, potensi bahaya tetap tinggi dan masyarakat diminta tidak lengah.
Erupsi Pertama Terjadi Saat Subuh
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi, mengungkapkan bahwa erupsi pertama terjadi pada pukul 05.27 WIB. Pada kejadian ini, kolom abu terpantau membumbung tinggi hingga sekitar 1.000 meter di atas puncak.
Jika dihitung dari permukaan laut, tinggi kolom letusan tersebut mencapai 4.676 mdpl. Abu vulkanik terlihat berwarna kelabu dengan intensitas cukup tebal dan bergerak ke arah utara serta timur laut.
Selain itu, aktivitas erupsi ini juga terekam jelas di alat seismograf. Amplitudo maksimum tercatat mencapai 22 mm dengan durasi selama 168 detik. Data ini menunjukkan bahwa tekanan magma yang keluar cukup signifikan.
Erupsi Kedua Menyusul, Abu Masih Tebal
Tak lama berselang, Semeru kembali erupsi untuk kedua kalinya pada pukul 07.47 WIB. Meski lebih rendah dari erupsi pertama, tinggi kolom letusan tetap tergolong besar, yakni sekitar 700 meter di atas puncak atau 4.376 mdpl.
Kolom abu pada erupsi kedua ini berwarna putih hingga kelabu. Arah sebaran masih konsisten menuju timur laut dengan intensitas yang tetap tebal.
Aktivitas ini juga terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum yang sama, yakni 22 mm. Namun, durasinya sedikit lebih singkat, sekitar 140 detik.
Kondisi ini menandakan bahwa aktivitas Gunung Semeru masih fluktuatif dan berpotensi berlanjut.
Status Siaga: Warga Diminta Tidak Dekat Kawah
Saat ini, Gunung Semeru masih berada pada status aktivitas vulkanik Level III (Siaga). Oleh karena itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting.
Pertama, masyarakat dilarang beraktivitas di sektor tenggara, khususnya di sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak. Area ini menjadi jalur utama potensi aliran awan panas.
Selain itu, masyarakat juga tidak boleh beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Hal ini karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar bisa mencapai hingga 17 kilometer dari puncak.