Fin.co.id - Diplomasi antara Teheran dan Washington berada di titik nadir. Republik Islam Iran secara tegas menyatakan tidak akan lagi terjatuh ke dalam lubang yang sama untuk ketiga kalinya.
Melalui sejumlah negara mediator, Iran menekankan ketidakpercayaannya terhadap Amerika Serikat (AS) menyusul rangkaian pengkhianatan dalam proses perundingan sebelumnya.
Laporan dari Axios mengungkap sejarah kelam kegagalan dialog tersebut. Pada Juni lalu, Israel yang didukung penuh Presiden AS Donald Trump melancarkan serangan saat pembicaraan akan dimulai.
Tragedi serupa terulang pada Februari 2026; tepat setelah kesepakatan awal nuklir tercapai, AS dan Israel justru menghujamkan serangan udara ke jantung Teheran.
Ketegasan Iran didasari oleh realitas lapangan yang kontradiktif. Di satu sisi, Washington menawarkan meja perundingan. Namun di sisi lain, peningkatan kehadiran militer AS di kawasan justru semakin masif.
“Kami tidak ingin tertipu lagi. Tawaran perundingan tanpa penghentian agresi militer hanyalah strategi licik untuk melemahkan posisi kami,” ungkap diplomatik senior Iran sebagaimana dikutip dari laporan resmi pada Kamis (26/03/2026).
Teheran telah memberikan peringatan kepada otoritas Pakistan, Mesir, hingga Turki bahwa manuver militer AS di Timur Tengah adalah bukti nyata niat damai yang digaungkan Donald Trump hanyalah isapan jempol.
Klaim Trump vs Bantahan Keras Iran
Sebelumnya, Donald Trump mengumumkan telah membentuk tim "Super Negosiator" yang terdiri dari tokoh-tokoh kuat.
Seperti Marco Rubio (Menlu), JD Vance (Wapres), Steve Witkoff, hingga menantunya, Jared Kushner. Trump mengklaim proses dialog telah dimulai kembali pada hari Minggu dan berjalan serius.
Namun, klaim sepihak tersebut langsung dimentahkan oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.
Ia menegaskan tidak ada pertemuan rahasia maupun resmi dengan pihak AS. Ghalibaf menuding klaim Trump sebagai berita palsu yang sengaja disebar untuk memengaruhi stabilitas pasar global dan menciptakan persepsi keliru.
Luka Akibat Serangan 28 Februari
Sentimen anti-AS di Iran mencapai puncaknya setelah serangan mendadak pada 28 Februari 2026 yang menelan korban sipil di Teheran.
Meskipun AS dan Israel berdalih serangan itu bersifat pendahuluan demi menghentikan program nuklir, Iran melihatnya sebagai upaya terang-terangan untuk melakukan kudeta kekuasaan.