Ekonomi . 28/03/2026, 20:38 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Admin
fin.co.id - Dunia tengah dilanda bayangan krisis ekonomi besar yang diprediksi puncaknya di tahun 2026.
Sumber kekhawatiran utama datang dari memanasnya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz.
Kondisi ini tentu saja mengguncang fondasi ekonomi global, memaksa kita semua untuk meningkatkan kewaspadaan.
Sebuah studi mendalam dari BUMN Research Group (BRG) Universitas Indonesia baru-baru ini mengungkap fakta mengejutkan.
Nasib BUMN Indonesia kini terbelah tajam di tengah badai ekonomi yang mengancam.
Beberapa BUMN terlihat berjuang mati-matian untuk bertahan, sementara yang lain justru menikmati lonjakan keuntungan yang luar biasa.
Fenomena kontras ini menciptakan efek domino yang kompleks, mendorong pemerintah dan jajaran manajemen BUMN untuk segera merumuskan solusi.
Konsep *natural hedge*, atau strategi lindung nilai alami, kini menduduki posisi sentral dalam perdebatan para pembuat kebijakan.
Sebuah studi komprehensif bertajuk "Stress Test Krisis Selat Hormuz 2026" melukiskan gambaran yang cukup suram bagi segmen BUMN yang paling rentan terhadap gejolak eksternal.
Kelompok BUMN yang sangat bergantung pada pasokan impor untuk energi dan berbagai bahan baku strategis kini berada di garis depan ancaman.
Kenaikan harga minyak mentah dunia yang meroket dan nilai tukar dolar AS yang terus bergejolak menjadi mimpi buruk yang nyata bagi mereka.
PT Pertamina (Persero), sebagai salah satu pilar utama ketahanan energi nasional, menghadapi beban biaya operasional yang membengkak drastis.
Semua ini terjadi akibat semakin mahalnya harga minyak impor.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media