fin.co.id - Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran mengeluarkan ancaman terhadap sejumlah perusahaan teknologi besar asal Amerika.
Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran, IRGC menyebut akan menargetkan perusahaan teknologi dan industri besar Amerika mulai 1 April sebagai bentuk pembalasan atas serangan terhadap wilayah Iran.
Ancaman ini menandai babak baru dalam konflik antara kedua negara, karena sasaran yang disebut bukan hanya fasilitas militer, tetapi juga perusahaan sipil yang memiliki pengaruh besar dalam ekonomi global.
Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Iran Tasnim, IRGC menyebut setidaknya 18 perusahaan Amerika Serikat masuk dalam daftar target.
Beberapa perusahaan yang disebut antara lain:
-
Microsoft
-
Google
-
Apple
-
Intel
-
IBM
-
Tesla
-
Boeing
IRGC memperingatkan bahwa operasi regional perusahaan-perusahaan tersebut berpotensi terdampak, terutama di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataan tersebut bahkan disampaikan imbauan kepada para karyawan perusahaan untuk segera meninggalkan tempat kerja demi alasan keselamatan.
Peringatan ini memicu kekhawatiran di kalangan industri global karena perusahaan yang disebut memiliki jaringan operasi yang sangat luas di berbagai negara.
Konflik Iran–AS Meluas ke Sektor Teknologi
Ancaman terhadap perusahaan sipil ini menunjukkan bahwa konflik antara Iran dan Amerika Serikat mulai meluas dari ranah militer ke sektor ekonomi dan teknologi.
Selama ini ketegangan kedua negara lebih sering terjadi dalam bentuk operasi militer, sanksi ekonomi, maupun serangan siber.
Namun langkah IRGC yang secara terbuka menyebut perusahaan teknologi global sebagai target menunjukkan adanya perubahan strategi dalam dinamika konflik tersebut.
Para analis geopolitik menilai bahwa sektor teknologi menjadi target karena memiliki peran penting dalam sistem pertahanan dan operasi militer modern.