fin.co.id - Seorang diplomat berpangkat tinggi di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mohamad Safa, mengumumkan pengunduran dirinya setelah melontarkan tuduhan serius terkait kemungkinan skenario penggunaan senjata nuklir terhadap Iran.
Safa menyatakan keputusan mundur tersebut diambil setelah hampir 12 tahun menjabat sebagai Perwakilan Tetap Organisasi Visi Patriotik (PVA) untuk PBB.
Ia menyampaikan pengunduran diri pada 27 Maret 2026, dengan alasan ingin mengungkap informasi yang menurutnya sangat penting bagi publik internasional.
Pernyataan tersebut langsung memicu perhatian luas karena menyangkut isu sensitif terkait keamanan global dan potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Klaim Kebocoran Informasi Internal
Menurut laporan media internasional Middle East Eye, Safa menyebut pengunduran dirinya dilakukan sebagai bentuk protes sekaligus upaya membocorkan informasi yang ia anggap krusial.
Organisasi yang diwakilinya, Patriotic Vision Organization (PVA), merupakan organisasi non-pemerintah yang memiliki status konsultatif khusus di Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC).
Dalam pernyataannya, Safa menuding sejumlah pejabat senior di PBB tidak lagi bekerja sepenuhnya untuk kepentingan lembaga internasional tersebut.
Ia bahkan mengklaim bahwa beberapa pihak lebih melayani kepentingan lobi tertentu.
“Saya tidak yakin orang memahami betapa seriusnya situasi ini, karena PBB sedang mempersiapkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran,” ujar Safa dalam pernyataannya.
Ia menambahkan bahwa keputusan mundur tersebut merupakan bentuk pengorbanan pribadi.
“Saya mengorbankan karier diplomatik saya untuk membocorkan informasi ini. Saya menghentikan tugas saya agar tidak menjadi bagian dari atau saksi atas kejahatan terhadap kemanusiaan ini,” katanya.
Setelah pengunduran diri tersebut, Safa juga menyampaikan kekhawatirannya melalui unggahan di media sosial X pada 29 Maret 2026.
Dalam unggahannya, ia menampilkan foto kota Teheran dan menyoroti potensi dampak kemanusiaan jika konflik benar-benar meningkat.