Menurut Safa, banyak pihak yang tidak memahami besarnya dampak tragedi jika serangan nuklir benar-benar terjadi di kota tersebut.
“Ini bukan gurun dengan populasi rendah. Ada keluarga, anak-anak, hewan peliharaan. Orang-orang kelas pekerja biasa dengan mimpi,” tulisnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Teheran merupakan kota besar dengan populasi hampir 10 juta penduduk.
Untuk menggambarkan besarnya potensi dampak, Safa mengajak publik membayangkan situasi serupa terjadi di kota besar dunia.
“Bayangkan jika Washington, D.C., Berlin, Paris, atau London dibom dengan senjata nuklir,” tulisnya.
WHO Siapkan Skenario Terburuk
Pernyataan Safa muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global terkait kemungkinan eskalasi konflik yang melibatkan Iran.
Menurut laporan Politico, pejabat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga tengah mempersiapkan langkah-langkah menghadapi skenario terburuk jika konflik meningkat.
Direktur Regional WHO, Hanan Balkhy, menyatakan bahwa pihaknya sedang menyiapkan berbagai rencana darurat.
“Skenario terburuk adalah insiden nuklir, dan itu yang paling kami khawatirkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dampak dari insiden nuklir tidak hanya akan dirasakan oleh negara yang menjadi lokasi kejadian, tetapi juga dapat mempengaruhi komunitas global dalam jangka waktu sangat panjang.
Menurutnya, dampak radiasi dan kerusakan lingkungan dapat berlangsung puluhan tahun.
WHO saat ini tengah mempersiapkan berbagai skenario darurat, termasuk kemungkinan:
-
serangan terhadap fasilitas nuklir
-
kecelakaan nuklir
-
penggunaan senjata nuklir secara langsung
Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh mantan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Mohamed ElBaradei.