BMKG Ingatkan Kemarau 2026 Lebih Panjang: Puncak Agustus Berpotensi Lebih Kering

news.fin.co.id - 06/04/2026, 11:07 WIB

BMKG Ingatkan Kemarau 2026 Lebih Panjang: Puncak Agustus Berpotensi Lebih Kering

Ilustrasi prakiraan curah hujan BMKG yang menunjukkan wilayah Indonesia dengan warna cokelat tua sebagai tanda kekeringan ekstrem.Foto:Unsplash

fin.co.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi akan berlangsung lebih lama dan lebih kering daripada biasanya. Fenomena El Niño yang diproyeksikan berkembang pada semester kedua tahun ini menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa beberapa titik di Indonesia bahkan sudah memasuki fase kemarau sejak akhir Maret 2026. Wilayah tersebut mencakup sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Riau, hingga Nusa Tenggara dan Papua Barat. Secara umum, puncak musim kering diperkirakan akan melanda sebagian besar wilayah pada Agustus mendatang.

"BMKG terus memantau dinamika iklim global dan regional secara intensif. Kami mengimbau masyarakat untuk selalu mengikuti pembaruan informasi resmi melalui kanal komunikasi yang tersedia," ujar Faisal di Jakarta, Minggu 5 April 2026.

Ancaman El Niño di Semester Kedua

Advertisement

Analisis data iklim menunjukkan adanya peluang 50 hingga 80 persen bagi berkembangnya fenomena El Niño dengan intensitas lemah hingga moderat. Meski saat ini kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) masih terpantau netral, pemodelan iklim mengindikasikan pergeseran fase pada paruh kedua tahun ini.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa musim kemarau kali ini akan terasa lebih menyengat karena akumulasi curah hujan diprediksi berada di bawah normal. Sebanyak 57,2 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami durasi kemarau yang lebih panjang dari rata-rata normalnya.

"Musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya, sebagai kontribusi dari variabilitas iklim alamiah," tegas Ardhasena.

Peta Sebaran dan Mitigasi Dampak

Berdasarkan rilis "Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026", awal musim kering diproyeksikan mulai mendominasi pada periode April hingga Juni. Wilayah Nusa Tenggara akan menjadi gerbang awal masuknya musim kemarau sebelum merambat ke wilayah lainnya secara bertahap.

Beberapa poin krusial yang patut diwaspadai antara lain:

Datang Lebih Awal: Sekitar 46,5 persen wilayah zona musim (ZOM) akan mengalami awal kemarau yang lebih maju dari biasanya.

Curah Hujan Rendah: Mayoritas wilayah (64,5 persen) akan menghadapi curah hujan kategori bawah normal atau sangat kering.

Puncak Agustus: Sebanyak 429 ZOM diprediksi mencapai titik terpanas dan terkering pada Agustus 2026.

Advertisement

BMKG juga mengingatkan adanya fenomena spring predictability barrier pada periode Maret hingga Mei, yang dapat memengaruhi akurasi prediksi jangka panjang. Oleh karena itu, penguatan data pada bulan Mei mendatang akan menjadi kunci untuk mendapatkan proyeksi iklim yang lebih presisi hingga akhir tahun. Pemerintah daerah dan masyarakat diharapkan mulai menyiapkan langkah mitigasi, terutama dalam pengelolaan cadangan air dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Lina
Lina
Penulis

Penulis FIN.CO.ID