fin.co.id - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, mengusulkan agar pembelian LPG 3 kilogram menggunakan sistem biometrik seperti sidik jari atau pemindaian retina mata. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan subsidi energi benar-benar tepat sasaran.
Menurut Said, selama ini penyaluran LPG subsidi masih belum optimal karena belum sepenuhnya menjangkau kelompok masyarakat yang berhak.
“Yang diperlukan justru adalah subsidi LPG 3 kilogram itu harus tepat sasaran. Caranya bukan sekadar pemerintah punya data, tapi juga gunakan sidik jari atau retina mata bagi yang berhak,” ujarnya, Selasa, 7 April 2026.
Ia mengungkapkan, dari total alokasi sekitar 8,6 juta penerima, hanya sekitar 5,4 juta yang dinilai benar-benar layak menerima subsidi tersebut. Dengan sistem yang lebih akurat, anggaran negara dapat dihemat tanpa harus mengurangi jumlah subsidi.
Said juga menyoroti beban fiskal akibat kenaikan harga energi global yang menurutnya merupakan konsekuensi yang tidak bisa dihindari. Namun, ia menilai kebijakan seharusnya tidak membebani masyarakat kecil.
“Kenapa yang untuk orang miskin yang diotak-atik? Jangan dong,” tegasnya.
Sebagai alternatif, Said menyarankan pemerintah mempertimbangkan penyesuaian harga energi non-subsidi yang dinilai lebih mencerminkan harga keekonomian. Meski demikian, ia mengingatkan agar dampak inflasi tetap diperhitungkan secara matang.
Menurutnya, setiap kenaikan harga energi memiliki efek berantai terhadap harga barang dan jasa lainnya. Karena itu, pemerintah diminta berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil kebijakan di tengah fluktuasi harga minyak dunia.
Dengan usulan ini, Said berharap distribusi LPG subsidi ke depan bisa lebih adil, efisien, dan benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan.
Anisha Aprilia/Disway